Sabtu, 04 April 2015

Seni Budaya Madura



Madura

            Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.
Madura merupakan pulau kecil yang letaknya di sebelah timur pulau jawa. Madura memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang sudah ada dari sejak lama. Madura memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat-masyarakat pada umumnya, meskipun Madura masih berada di wilayah Indonesia tetapi faktor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia berbeda-beda, dari satu daerah-ke daerah lain, meskipun Madura masih satu provinsi dengan mereka.
Masyarakat Madura memiliki corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat Madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain. Jika masyarakat atau orang Madura mendapatkan suatu kebaikan maka dia akan membalasnya dengan kebaikan serupa atau bahkan lebih baik. Tetapi, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan mereka akan membalas dengan yang lebih kejam.
            Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba' asapo' angen). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: katembheng pote mata, angok pote tolang. Sifat yang seperti inilah yang melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.
            Walau orang di luar Madura menilai mereka sangat kasar, namun penghormatan terhadap nilai-nilai kesopanan sangat tinggi sekali. Betapa pentingnya nilai kesopanan ini nampak dari ungkapan ta'tao batona langgar (tidak pernah merasakan lantainya langgar). Maksudnya, orang tersebut belum pernah masuk langgar dan mengaji atau belum pernah mondok, sehingga tidak tahu tatakrama kesopanan. Ungkapan ini untuk orang yang tidak tahu atau melanggar nilai-nilai kesopanan. Ungkapan lain yang memberikan nasihat dan ajaran tentang keharusan bersopan santun adalah : pa tao ajalan ,jalana jalane, pa tao neng ngenneng, pa tao a ca ca (yang menjadi kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan aturan. Harus tahu saatnya diam, harus tahu saatnya berbicara). Hal ini bermakna bahwa orang Madura harus selalu tahu aturan, nilai dan tatakrama dalam setiap tindakannya. Selain itu, setiap kewajiban harus dilaksanakan dengan mendasarkan pada aturan-aturan tata krama yang ada. Orang dan masyarakat Madura selalu menekankan bahwa mon oreng riya benni bagusse, tape tatakramana, sanajjan bagus tapi tatakramana jube', ma' celep ka ate (yang penting bukan ketampanan atau kecantikan, namun utama tatakramanya)
Dasar utama dari nilai-nilai kesopanan adalah penghormatan orang Madura kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Nilai-nilai kesopanan ini mengatur hubungan antargenerasi, kelamin, pangkat dan posisi social.



Bahasa Madura :
Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinya mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalannya. Bahasa Madura sama seperti bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan.
TINGKAT BAHASA ( Dag ondagga basa )
Dalam Bahasa Madura kita kenal 5 tinggkatan Bahasa :
    1. Bahasa Kraton = Abdi Dalem – Junan Dalem
      Biasa digunakan di lingkungan keluarga Kraton
    2. Bahasa Tinggi = Abdina – Panjennengan
      Biasa digunakan oleh ponggawa / bawahan pada atasan, baik di Lingkungan Kraton maupun di Lingkungan Pemerintahan, atau Santre pada Keyae.
    3. Bahasa Halus = Kaula – Sampeyan
      Biasa digunakan oleh yang lebih muda pada yang lebih tua / pada yang dihormati.
    4. Bahasa Menengah = Bula – Dika
      Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda tetapi di hormati.
      Misal : Mertua pada menantunya.
    5. Bahasa Mapas / Kasar       = Sengko’ – Ba’na – Kakeh – Sedeh
      Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda, orang yang mempunyai posisi yang lebih tinggi pada bawahannya, dan orang yang seumur / sebaya (teman).
  
Rumah Adat Madura
Rumah adat Madura memiliki halaman yang panjang atau yang terkenal dengan sebutan Tanian Lanjang yang berarti bukti kekerabatan masyarakat Madura. Rumah adat ini hanya memiliki satu pintu di depan. Agar pemilik rumah, dapat mengontrol aktifitas keluar masuk keluarga. Pintu ini dihiasi ukiran-ukiran asli Madura, dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan.

Senjata tradisional Madura

Senjata tersebut bernama clurit. Bentuknya melengkung seperti arit, mata celurit sangat runcing dan tajam. Gagangnya tebuat dari kayu atau logam.


Pakaian adat Madura

Pakaian adat masyarakat Madura untuk pria sangat identik dengan motif garis horizontal yang biasanya berwarna merah-putih dan memakai ikat kepala. Lebih terlihat gagah lagi bila mereka membawa senjata tradisional yang berupa clurit. Dan untuk wanita, biasanya hanya menggunakan bawahan kain batik khas Madura dan mengenakan kebaya yang lebih simple.

Tarian khas Madura :

1.      Duplang

Tari duplang merupakan tari yang spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tarian ini disebabkan karena tarian ini merupa kan sebuah penggambaran kehidupan seorang wanita desa. Wanita yang bekerja keras sebagai petani yang selama ini terlupakan. Dijalin dan dirangkai dalam gerakan-gerakan yang sangat indah, lemah-lembut, dan lemah gemulai.

2.      Tari Sholawat Badar atau rampak jidor

Tari yang dimainkan oleh para dara ini merupakan tari yang menggambarkan karakter orang Madura yang sangat relegius. Seluruh gerak dan alunan irama nyanyian yang mengiringi tari ini mengungkapkan sikap dan ekspresi sebuah puji-pujian, do’a dan zikir kepada Allah SWT.

3.      Tari topeng Gethak

Tari topeng 'gethak' mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Gerakan tari topeng gethak mengandung makna mengumpulkan masa dimainkan oleh satu hingga tiga orang penari.

4.      Tari Rondhing

Rondhing ini kan berasal dari "rot" artinya mundur, dan "kot-konding" artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan baris-berbaris. Tari rondhing ditarikan oleh 5 orang.

5.      Tari Gambu

Tari Gambu Keraton Sumenep
Pada awalnya tari Gambu lebih dikenal dengan Tari keris, dalam catatan Serat Pararaton tari Gambu disebut dengan Tari Silat Sudukan Dhuwung, yang diciptakan oleh Arya Wiraraja dan diajarkan pada para pengikut Raden Wijaya kala mengungsi di keraton Sumenep. Pada masa kerajaan Mataram Islam di Jawa yakni pada pemerintahan Raden Mas Rangsang Panembahan Agung Prabu Pandita Cakrakusuma Senapati ing Alaga Khalifatullah (Sultan Mataram 1613-1645), seorang Raja yang sangat peduli dengan seni dan budaya. Maka kala itu Sumenep diperintah oleh seorang Adipati kerabat Sultan Agung yang bernama Kanjeng Pangeran Ario Anggadipa tarian tersebut dihidupkan kembali sekitar tahun 1630, diberi nama “Kambuh” dalam bahasa Jawa berarti “terulang kembali” dan sampai detik ini terus diberi nama Kambuh dan lama kelamaan berubah istilah menjadi tari Gambu (dalam logat Sumenep).
6.      Tari Moang Sangkal
Tari Moang Sangkal merupakan salah satu icon seni tari di Madura, secara harfiah kata moang sangkal terdiri dari dua kata berbahasa Madura yang mempunyai makna kata sebagai berikut :
Kata Mowang berarti membuang, dan kata Sangkal berarti sukerta yang artinya gelap (sesuatu yang menjadi santapan sebangsa setan, dedemit, jin rayangan, iblis, menurut ajaran Hindu). Sedangkan kata "sangkal" sendiri mengadopsi dari bahasa Jawi Kuno yang maksudnya Sengkala (sengkolo). Jadi sangkal yang dimaksudkan pada umumnya oleh masyarakat Songennep adalah : bila ada orang tua mempunyai anak gadis lalu dilamar oleh laki-laki, tidak boleh ditolak karena membuat si gadis tersebut akan “sangkal” (tidak laku selamanya).
Pada umumnya jumlah penari berjumlah ganjil, dan kostum yang digunakannyapun adalah kostum pengantin legha khas Sumenep dengan warna yang khas pula, yaitu warna merah dan kuning, perpaduan warna tersebut mengandung filosofi ”kapodhang nyocco’ sare” yang maksudnya ”Rato prapa’na bunga” (raja sedang bahagia). sedangkan untuk paduan warna kostum merah dan hijau atau kuning dan hijau mengandung folosofi ”kapodang nyocco’ daun” yang maksudnya ”Rato prapa’na bendhu” (Raja sedang marah).Tari moang sangkal sendiri, diciptakan pada tahun 1972 oleh salah seorang seniman Sumenep, Taufikurrachman yang salah satunya dilatarbelakangi oleh kepedulian para seniman dalam menerjemahkan alam madura yang sarat akan karya dan keunikan. disamping juga mengangkat sejarah kehidupan karaton Sumenep tempo dulu.
7.      Tandak Madura
Tayub atau tandak satu-satunya seni tari di mana perempuan menjadi penentu dan pencirinya dari awal hingga akhir. Bahkan, penyebutan tandak untuk nama kesenian mengindikasikan hal ini. Istilah tandak lebih merujuk pada penari perempuan. Tapi karena ia menjadi unsur terpenting, kesenian itu sendiri pada akhirnya sering disebut dengan tandak.
8.      Tarian Sanduk
Keselarasan dalam gerak tampak dalam Tarian Sanduk yang merupakan tarian khas Madura. Kesatuan gerak merupakan hal penting dalam seni tari, apa lagi tari kolosal seperti Tarian Sanduk. Dalam tarian yang membutuhkan penari dalam jumlah banyak ini dapat dilihat bahwa tari merupakan salah satu sarana pergaulan.
9.      Tari Geleng Ro’om
Geleng Ro’om yang berarti gelang yang harum, merupakan tarian yang diadaptasi dari Tari Topeng Getak dan Ronding asal Madura,” Tarian ini sarat prestasi. Salah satunya meraih juara umum pada Parade Tari Nusantara (PTN) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 2006.
“Ketika itu tarian ini menyabet koreografer terbaik, tata rias terbaik, kostum terbaik, tarian kreasi terbaik, aransemen musik terbaik, 13 penyaji terbaik, dan penyaji terbaik wilayah Jawa-Bali,” Prestasi lainnya, tarian ini sudah 6 kali tampil di Istana Negara untuk berbagai acara jamuan kenegaraan.
Selain kostum yang menarik, unik, para penarinya perempuannya muda dan cantik, berkulit putih-putih. Mereka mengenakan gelang berwarna keemasan di kaki dan tangannya. Secara fisik saja penampilam mereka sudah menarik perhatian.
10.  Tari Pecut
Tari pecut terlihat terilhami tari ngremo atau tari kelana yang di Jawa umum dipergelarkan sebelum pertunjukan ludruk.
Gerakan tarian baru itu umumnya dinamis dan giring-giring yang dikenakan di kaki para penarinya lebih memeriahkan dan menyemarakkan suasana. Apalagi karena tarian tersebut sering ditarikan secara massal sambil membawa pecut yang kalau dikebatkan mengeluarkan bunyi menggelegar yang keras.
11.  Tari Potre Koneng
Tari Potre Koneng merupakan sebuah tarian yang menggambarkan seorang putri ningrat, yang bernama Potre Koneng. Seorang putri yang cantik jelita, lemah lembut tutur katanya, ramah, dan penyayang. Tarian ini sangat menarik dan gerakannya gemulai, sesuai dengan perilaku seorang putri ningrat. Tari Potre Koneng mengisahkan tentang pertapaan putri jelita itu.
12.  Tari Sorong Kasereng
MASYARAKAT Madura menyimpan banyak kesenian tradisional. Salah satunya adalah Tari Sorong Kasereng di Kabupaten Sampang. Tarian ini dimainkan anak nelayan saat air laut pasang ketika mereka membantu para orang tuanya menurunkan ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebuah ekspresi kegembiraan atas rezeki dari laut yang diberikan oleh Tuhan.
Kini, Tari Sorong Kasereng tak hanya dimainkan oleh anak-anak nelayan saja, tapi seringkah pula ditampilkan dalam even yang dihadiri oleh pejabat. Seperti tari-tarian lain yang ada di Madura, Tari Sorong Kasereng juga diiringi dengan alunan musik khas Madura yang disebut Saronen.
13.  Tari Reng Majang / Tari Ole Olang
Tari Reng Majang artinya tari nelayan, banyak jenis tari yang berasal dari Madura. Tari Reng Majang salah satu tari daerah yang sudah tersohor dan banyak disukai. Tari Reng Majeng atau Tari Nelayan ini lebih dikenal dengan sebutan Tari Ole Olang, karena tarian ini diiringi sebuah lagu berjudul Ole Olang. Tari ini menggambarkan kehidupan para nelayan yang bekerja di tengah laut mencari ikan.
Betapa gigihnya para nelayan di daerah Madura, tak peduli ombak besar menerjang, namun para nelayan  tetap menjalankan kewajibannya, ombak bagi mereka bagaikan bantal saja layaknya, dan angin sebagai selimutnya, Para nelayan tak gentar oleh ombak serta riuhnya angin yang sewaktu-waktu dapat menggulingkan perahu mereka.
Musik Khas Madura :

1.      Saronen

Merupakan music khas Madura, dimana alat music tersebut berbentuk kerucut dan dimainkan dengan cara ditiup.

2.      Tembang Macapat

Tembang macapat adalah tembang yang dipakai sebagai media untuk memuji Allah sebelum dilaksanakan shalat wajib, tembang tersebut penuh sentuhan lembut dan membawa kesahduan jiwa. Selain berisi puji-pujian tembang tersebut juga berisi ajaran, anjuran serta ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, ajaran untuk bersama-sama membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakekat kebenaran serta membentuk manusia berkepribadian dan berbudaya.

3.      Musik Tong-Tong


Musik Tong- Tong adalah musik dengan peralatan dari bambu dan dibuat dengan model sederhana ini, tapi mampu menghadirkan bunyi yang rancak dan tak kalah indah dari musik modern, merupakan kekayaan lokal yang mampu mewarnai kehidupan masyarakat, terutama di Madura.
Adat Istiadat Madura :
1.      Rangkaian Upacara Pernikahan
Tahap mencari jodoh
Proses pernikahan ini dimulai dengan tahapan mencari jodoh yang dibagi kedalam dua bagian, antara lain :
Ngen-angen khabar ( informasi )
Dimana orang tua akan berusaha mencari calon isteri untuk anaknya yang sudah dewasa (baligh) dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta batuan kepada seseorang yang disebut sebagai "pangadek"
Arabas Pagar
Setelah melalui tahapan Ngen angen khabar, selanjutnya adalah proses Arabas pagar, maksudnya seorang pangadek mencari keterangan calon penganten apakah sang calon yang dituju sudah memiliki pasangan atau masih tidak. Setelah melalui proses yang panjang dan si calon sudah cocok dengan pasangannya, maka tahap selanjutnya adalah Abakalan atau tunangan.
Nyabak Jajan atau Lamaran
Calon mempelai laki-laki mengirimkan seperangkat alat-alat keperluan mempelai wanita yang dibawa oleh rombongan kerabat keluarga pihak laki-laki secara beriringan. Tahapan tersebut dikenal oleh masyarakat dengan bhan-gibhan.
            Setelah menerima pemberian ini maka pihak wanita akan membalas pemberian calon mempelai laki-laki dengan berbagai macam masakan kuliner yang juga dibawa oleh keluarga kerabat mempelai wanita. Prosesi ini disebut dengan istilah balessan atau tongebbhan.
Menjelang hari pernikahan, kedua pihak mempelai mengadakan persiapan diantaranya Mamapar gigi oleh calon wanita setelah itu mulai tahapan pingitan. Selanjutnya setelah melalui proses tahapan diatas, maka tiba saatnya upacara yang sangat sakral "Ijab Kabul"
Sehari menjelang dilaksanakannya upacara pernikahan adat di kediaman mempelai wanita, ada tradisi yang dilakukan oleh sesepuh wanita yang dituakan berpakaian serba tertutup, yang selanjutnya membawa kendi berisi air beserta dhamar kambhang (lampu minyak) untuk di percikkan disekitar jalan yang akan dilalui oleh para tamu, setelah selesai maka sesepuh tadi kembali ke rumah pengantin wanita dan meletakkan dhamar kambhang di kamar si pengantin.
2.      Mamapar gigi
Tradisi Mamapar gigi ini bisa ditemui di seluruh pedesaan yang ada di Sumenep, tepatnya di Desa Panagan, Kecamatan Gapura, sekitar 10 kilometer arah Tenggara Kota Sumenep. Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup) individu, khususnya bagi seorang perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan. “Mapar” dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “melakukan suatu pekerjaan untuk merapikan dan meluruskan”. Jadi, mapar gigi dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk merapikan dan meluruskan bentuk susunan gigi dengan seperangkat alat khusus.

3.      Upacara Sandhur Pantel

Upacara ritual untuk para masyarakat Madura yang berprofesi sebagai petani atau nelayan. Upacara ini menghubungkan manusia dengan makhluk ghaib sebagai sarana komunikasi manusia dengan Tuhan pencipta alam. Upacara ini berupa tarian yang diiringi music.
4.      Nyadar
Nyadar (upacara adat) adalah kekayaan tradisi masyarakat petani garam Desa Pinggir Papas. Nyadar dilakukan di sekitar komplek makam leluhur, disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Bujuk Gubang. Dalam setahun dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Pada Nyadar ketiga biasa mereka sebut dengan Nyadar Bengko. Lokasi Upaca adat tersebut berada di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi. Dari kota Sumenep sendiri untuk menuju lokasi masih harus menempuh jarak sekitar 13 kilometer lagi ke arah Selatan.
5.      Penganten Ngekak Sangger
Menurut penuturan para sesepuh di Desa Leggung Kecamatan Batang-Batang ,ini melambangkan :
  • Bahwa Pernikahan bagi orang-orang di pedesaan Sumenep bukanlah pertautan kedua mempelai, melainkan masuknya penganten pria kedalam keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan dan tahan dalam menghadapi tantangan hidup
  • Mendidik penganten pria agar selalu arif, tertip, dan memegang sopan santun seperti halnya rangkaian Sangger.
6.      Rokad Pandhâbâ
Rokad Pandhâbâ, sebagaimana ruwatan murwakala di Jawa, merupakan tradisi ritual di Madura yang bermula dari kepercayaan masyarakat atas ancaman marabahaya sang Bethara Kala terhadap keselamatan seorang anak.
Seorang yang ingin melaksanakan ritual rokadhân (ruwatan) untuk anaknya tersebut, biasanya akan menggelar berbagai macam jenis kesenian tradisi sebagaimana upacara-upacara ritual yang lain, seperti petik laut, helat desa, pesta panen, pesta perkawinan, dan sebagainya. Kesenian-kesenian yang biasa digelar di antaranya mamaca (macapat), tanda (tayub), loddrok (ludruk), ketoprak, topèng dhâlâng (topeng dalang), dan kesenian lainnya yang mengandung unsur bunyi-bunyian.
Seni Pertunjukan Madura :

1.      Karapan Sapi 

Merupakan kebudayaan Madura yang sangat terkenal. Karapan sapi ini merupakan lomba memacu sapi paling cepat sampai tujuan. Bertujuan untuk memberikan semangat kepada para petani agar tetap semangat untuk bekerja dan meningkatkan produksi ternak sapinya.
2.      Topeng Madura
Biasanya digunakan untuk pentas kesenian topeng dalang, yaitu kesenian topeng yang dalam memerankan suatu cerita, penarinya tidak berbicara, dialog dilakukan oleh dalangnya cerita yang dibawakan adalah cerita Ramayana dan Mahabarata.
3.      Sapi Sono’
            Ketelatenan, ketekunan dan kesabaran masyarakat pemilik sapi tersebut patut diacungi jempol. Dapat dibayangkan bagaimana sepasang sapi betina yang biasanya berada di ladang, Tiba-tiba berubah haluan menjadi hewan yang sangat peka, penurut dan patuh. Dalam atraksi ini dapat disaksikan bagaimana hewan besar berkaki empat ini mampu mematuhi aturan, mampu mengangkat kaki bersamaan ataupun  menggoyang-goyangkan tubuh (berjoget)  ketika instrumen musik Saronen dimainkan.
4.      Ojhung
Ojhung adalah sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura,khususnya Sumenep. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap musim kemarau panjang tiba. tujuannya tak lain untuk mendatangkan hujan. Peralatan yang digunakan dalam permainan yang sekaligus berfungsi sebagai senjata adalah tongkat rotan yang berfungsi sebagai alat pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut lapalo atau kol-pokol . Selain itu, pemain menggunakan pelindung kepala (bhungkus atau bhuko) dan pembalut lengan kiri (bulen atau tangkes) . Permainan diatur oleh seorang wasit yang oleh masyarakat setempat disebut bhubhuto. Dalam pelaksanaannya, pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes okol yang peralatan musiknya terdiri atas ghambang dan dhuk-dhuk.
5.      Lodrok
Kata “ludruk” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti pertunjukan sandiwara dengan me nari dan bemyanyi. Sedangkan ludruk (di Madura) mempunyai arti yang lebih sempit dari pada ludruk dalam arti kamus, yaitu sebuah pertunjukan san diwara (sejenis teater) yang diperankan oleh seke lompok orang yang kesemuanya adalah laki-laki, meskipun dalam kisah pertunjukan tersebut ada peran perempuan, dan pertunjukan itu  diiringi de ngan menyanyi dan menari serta beberapa musik tradisional.
  1. Bajang Kole' Bhasa Madura
Bâjâng kolè’ merupakan suatu bentuk kesenian wayang kulit di Madura, sebagai warisan nenek moyang bangsa dimana banyak mengandung ajaran moral, etika dan falsafah masyarakat pendukungnya. Pertumbuhan dan perkembangan bentuk pertunjukan wayang kulit di Jawa dalam satuan catatan sejarah pedalangan maupun pewayangan, ternyata tidak diiringi oleh tumbuh-kembangnya kesenian bâjâng kolè’ Pamekasan (Madura). Kesenian teater tradisional ini tidak banyak diketahui keberadaannya, sehingga perlu adanya upaya pendokumentasian demi pelestarian dan pengembangannya.
Budaya hukum suku Madura :

1.      Penikahan Salep Tarjha

            Pernikahan ini adalah pernikahan yang sangat dilarang oleh masyarakat Madura, karena dianggap dapet menbaca bencana dan musibah bagi para pelaku maupun keluarga dari pelaku pernikahan tersebut. Pernikahan Salep Tarjha adalah pernikahan 2 orang saudara.
Istilah Salēp Tarjhâ merupakan sebuah istilah yang diberikan oleh Bengaseppo (sesepuh/nenek moyang) masyarakat Madura bagi perkawinan silang antara 2 (dua) orang bersaudara (sataretanan) putra-putri. Contoh : Ali dan Arin adalah dua orang bersaudara (kakak-adik) yang dijodohkan/dinikahkan secara silang dengan Rina dan Rizal yang juga dua orang bersaudara (kakak-adik).

2.      Carok
    Hukum adat yang paling kontroversial adalah carok. Carok ini berasal dari suku madura. Carok merupakan kebiasaan adat mereka untuk meneyelesaikan sengketa yang terlalu memakan emosi mereka. Carok ini dapat kita samakan dengan “hutang nyawa dibayar nyawa”. Jika salah satu dari mereka (orang madura) yang sudah mengucap atau menantang carok dengan yang lain, maka harus dilakukan secepatnya. Di dalam carok tersebut, salah seorang dari pelaku carok harusadayangmati.
    Tidak ada peraturan resmi dalam pertarungan ini. Banyak yang menganggap carok adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi Carok.
Kata carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti 'bertarung dengan kehormatan.
    Carok biasanya terjadi jika menyangkut masalah-masalah yang menyangkut kehormatan/harga diri bagi orang Madura (sebagian besar karena masalah perselingkuhan dan harkatmartabat/kehormatan keluarga).
Seni Kriya Madura :
1.       Batik Tulis Madura
Batik Madura adalah sebuah kerajinan tangan yang berasal dari Pulau Madura, yang pusat pembuatan batik tersebut berada di daerah Bangkalan yang merupakan ujung Barat Madura, sampai di pasar Sumenep. Batik Madura seakan identik dengan satu tempat istimewa, yaitu Tanjung Bumi, yang berada di Bangkalan Utara, diluar jalur utama lintas Madura yaitu berada di sisi selatan pulau Madura.
2.       Keris
 Sentra pembuatan senjata keris di Sumenep terdapat di desa Aeng tong tong kecamatan Saronggi dan desa desa Palongan Kecamatan Bluto. Keris juga merupakan sebuah kerajinan tradisional dari Madura meskipun tidak begitu diketahui sejak kapan keris sudah menjadi senjata tradisional masyarakat Madura. Keris sekarang dan keris pada masa lalu berbeda, bila keris sekarang digunakan hanya untuk meningkatkan/menaikkan pamor seseorang dan keris pada masa lalu digunakan sebagai alat berperang.
3.       Ukiran Sumenep Madura terdapat di desa Karduluk
4.       Perahu Madura
Salah satu jenis perahu Madura di Pantai Slopeng, Sumenep
Perahu madura adalah salah satu jenis perahu yang berkembang dan dibuat di Pulau Madura. Menurut Sulaiman, BA. dalam bukunya perahu Madura dibagi kedalam 36 jenis, dengan nama jenis bentuk yang berbeda pula.[1] Sentra Pembuatan Perahu Madura terdapat di Desa Slopeng, Kacamatan Dasuk dan Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep. Didesa Ini perahu-perahu yang dikembangkan mirip dengan perahu-perahu pada zaman Kerajaan Majapahit, sehingga tidak berlebihan pula pada tahun 2010 silam, para pembuat perahu Madura di desa Slopeng dipercaya untuk membuat Kapal layar Spirit Majapahit untuk berkeliling dunia dalam misi perdamaian.

Jenis-jenis perahu madura

  • Parao lete’,
  • Lo-molowan,
  • Sampan pajangan,
  • Sampan kateran,
  • Janggolan,
  • Parao kaci’ dll.
  • Paddhuang
  • Karoman.
5.       Kleles 
Kleles adalah alat yang dipakai untuk pasangan sapi yang dikerap agar keduanya dapat lari seirama, sedangkan pada bagian buritan adalah tempat duduk joki, yang akan mengendalikan arah dan larinya sapi. Tuk-tuk sebagai instrument pengiring pada saat kerap sedang dibawa keliling maupun pada saat sedang berlangsung perlombaan kerapan sapi.
Makanan Khas Madura :
1.                  Kocor
Kocor, makanan khas daerah yang terkenal dengan Karapan Sapinya itu. Kocor adalah jajan gorengan yang terbuat dari gula aren atau gula dari air pohon siwalan dicampur tepung ini. Makanan ini seolah-olah menjadi makanan pokok hampir di semua rumah tangga di Madura saat lebaran tiba.
2. Nasi Serpang Bangkalan
Nasi serpang di masak dengan bumbu rempah-rempah khas madura. Nasi Serpang ini adalah masakan paduan dari bahan paduan bahan dari daratan juga lautan. Dari ikan laut sampai dengan daging hewan daratan. racikan smuan itu di antranya Nasi, Pepes ikan tongkol, Kerang dimasak sambal goreng, Soun bumbu kecap, Telor asin masir, Sambal terasi, Krupuk rambak bumbu rujak, Dendeng daging sapi Madura, Kripik paru dan Rempeyek ikan teri dan kacang,
3. Nasi Jagung
Sego jagung atau nasi jagung adalah salah satu jenis masakan khas warga Jawa Timur, khususnya daerah Madura.
Sego jagung bagi warga Madura dikenal dengan nama Nasek Ampog. Nasi ini terdiri dari beras putih yang dicampur dengan biji jagung pipilan yang dimasak secara bersamaan.
4. Sate Madura
Sate Madura adalah sate khas Madura. Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau garam, juga terkenal dengan satenya. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat akut.
5. Topak Ladhe
Makanan ini biasanya disajikan saat hari besar seperti hari raya ketupat, makanan ini kuahnya dari bumbu kelapa parut dan rempah-rempah yang digiling dan lauknya dari daging sapi dengan potongan telor ayam. disajikan dengan ketupat, ditambah sayur markisa atau kacang panjang yang drebus. dengan sedikit bawang goreng dan cabai.

6. Tajin sobih Bangkalan
            Tajin sobih ini merupakan jajanan khas mirip dengan bubur, tapi spesial banget. kita bisa menikmani beraneka ragam jenis bubur, ada yang merah-merah, ada yang coklat-coklat, dan ada yang putih-putih. jajanan ini dinamakan Tajin Sobih karena yang jualan kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan.
7. Kaldu Kokot
Makanan khas ini merupakan makanan sejenis sop dengan bahan utama kacang hijau yang di masak dengan direbus di tambahkan berbagai macam bumbu rempah-rempah khas jawa seperti bawang merah, bawang putih, jahe, pala, dan daun bawang. Makanan ini kuahnya agak kental dengan tambahan potongan kikil kaki sapi, yang suka tulang juga ada yang menyajikannya dengan tulang kaki sapi, kemudian ditambah dengan bumbu dari ulegan kacang dan petis.

8. Soto Madura


Ciri khas soto madura terletak pada kuah. Kuah pada soto biasa lainnya biasanya memakai santan. Tapi soto madura daerah sumenep kuahnya tidak memakai santan. Semua bahannya untuk soto ini haruslah digoreng dulu, bukan bahan mentah atau godokan. Lebih lengkapnya proporsi soto ini berupa lontong atau ketupat yang sudah dipotong lalu ditaburi bawang goreng, cambah goreng, kentang goreng, bawang pri goreng, dan perkedel ,lalu ditambah kuah kaldu jernih yang bercampur daging ayam atau sapi. Soto ini biasanya dimakan dengan pelengkap kecap manis, sambal, dan jeruk nipis.
9. Kaldu Daging

Kaldu sumenep juga lain dari kaldu-kaldu lainnya karena bahan dasarnya adalah kacang hijau. Kacang hijau ini  biasa dibuat bubur kacang hijau di jawa, di madura penduduk setempat mengolahnya menjadi kaldu yang dicampur dengan daging. Akan lebih nikmat jika disajikan  hangat-hangat, dengan kecap, korket (gorengan singkong olahan madura) & sambel. 


10. Apen Manis


Apen madura ini disajikan dengan taburan gula aren putih cair yang kental. Apen ini dapat dinikmati di warung pinggir jalan yang ada di desa parsanga.

11. Rujak Madura

Rujak madura rahasianya terletak pada petis. Orang madura tidak memakai petis hitam yang digunakan oleh orang jawa. Mereka membuat petis sendiri dari ikan atau udang. Bumbu untuk membuat rujak madura sangat  mudah yaitu petis satu-dua sendok, gula, garam, kacang goreng, cabe kecil, cuka diulek menjadi satu hingga tercampur rata dan dicampur bahan-bahan seperti lontong, sayur, telor.

12. Patola
Bagi warga Sampang, Madura, Jawa Timur, ada makanan khas yang wajib dihidangkan saat berbuka puasa. Makanan ini terbuat dari tepung beras dengan bentuk lingkaran yang khas dan disajikan dengan santan yang beraroma daun pandan.
Cara membuatnya cukup sederhana. Bahan-bahannya pun mudah didapat, seperti tepung beras, santan, garam, dan daun pandan.
13. Jubada
Camilan Jubede Khas Desa Kapedi, Sumenep Madura. © 2015 eMadura.com/Ahmad
Camilan khas Kapedi yang satu ini namanya "Jubede", orang luar Madura menyebutnya Jubada.  Jubede terbuat dari tepung yang dicampur dengan gula merah, setelah diaduk beserta air secukupnya. Jubede dimasak hingga agak mengental. Setalah dimasak, lalu dibentuk gulungan panjang, kemudian dipotong kecil-kecil berukuran sekitar 2-2,5cm dan dijemur. Setelah agak mengering jubede  pun diikat per 3 biji gulungan dengan tali yang terbuat dari daun siwalan.
14.              Rengginang Lorjuk
Rengginang yang terbuat dari campuran ketan dan ikan lorjuk. Pembuatannya yaitu dengan dikukus, kemudian dicetak dalam bentuk lingkaran lalu dijemur hingga kering. Rengginang lorjuk dapat dinikmati setelah digoreng.
15.              Rujak Cingur Sumenep
Rujak cingur khas Sumenep sangat berbeda dengan rujak cingur yang ada di Surabaya. Kalau di Sumenep, bahan utamanya tetap sama yaitu menggunakan kacang merah tetapi tidak menggunakan mangga di dalam bumbunya. Perbedaan satu lagi, kalau di Surabaya bahan yang digunakan seperti lontong, cingur, mentimun dan lainnya dimasukkan ke dalam cobek berisi bumbu kacang kemudian diaduk dengan rata dan disajikan ke piring, kalau di sumenep bahan itu dipotong-potong di atas piring kemudian langsung disirami bumbu kacang, jadi tidak perlu diaduk di atas ulekan lagi.
16.              Macho
Makanan khas sumenep, makanan ini banyak diminati oleh anak-anak dikarenakan rasanya yang manis. Bahan-bahan macho adalah: 1. gula merah/gula jawa. 2. beras ketan. Makanan ini mudah di dapatkan di daerah sumenep.
17. Sewel
Tak jauh dari pusat kota Bangkalan, tepatnya di daerah Socah terdapat sebuah gang yang sangat populer dan banyak dicari. Gang sewel, begitulah papan kecil terpampang di pintu masuk gang kecil tersebut. Camilan dengan cita rasa gurih terbuat dari campuran tepung kanji, udang dan bumbu-bumbu rempah khas daerah Socah. Ditambah saus kacang pedas yang semakin menambah kenikmatan.
18. Serabih
Serabih adalah kue Khas Madura dengan bentuk khasnya yang melingkar, yang terbuat dari adonan tepung beras, parutan kelapa, air dan garam. Kue ini biasa dihidangkan pada saat malam ke 21 sampai malam ke 29 pada bulan ramadhan.
19. Pokkak
Pokkak sendiri diperkirakan sudah ada sejak Jaman Kerajaan dahulu, Pokkak sendiri keberadaannya menyebar di berbagai pelosok Madura dengan variasi yang berbeda,di Kota Sumenep Pokka disajikan dengan Kayu Manis utuh sebagai pengaduk dan sedotan sedangkan di kota Pamekasan Pokkak disajikan dengan daun sereh sebagai pengaduk dan penambah aroma khas Pokkak.
Pokkak sendiri adalah minuman yang terbuat dari gula merah atau biasa dikenal dengan gula aren yang kemudian direbus ke dalam air hingga mendidih, tetapi untuk menambah rasa khas biasanya ditambahkan kayu manis, daun sereh dan jahe sebagai zat aromatic. Selain itu Pokkak juga berkhasiat sebagai obat herbal yang dapat mengurangi gejala masuk angin, meriang, flu, pilek dan banyak lagi khasiat dari minuman softdrink-nya orang Madura ini.
20. Kue Mento
Kue berselimut santan putih ini merupakan salah satu jajanan khas sumenep. Kue mento ini mirip risoles. Didalamnya ada potongan buah pepaya atau juga isi irisan wortel. Rasa dan aromanya mirip kue bawang. Cuma yang membedakan, kue ini dikukus dengan santan.
21. Man Reman
Makanan ini berasal dari daerah sumenep, tempatnya daerah kalianget. Makanan ini sulit untuk ditemukan karena hanya dibuat pada acara-acara tertentu. Bahan-bahan man reman adalah: 1. tepung beras. 2. gula merah/gula jawa.
Cerita Rakyat Madura :
1.      Ke’ Lesap
Diceriterakan bahwa Pak Lesap adalah putera Madura keturunan Panembahan Cakraningrat dengan isteri selir; karena itu pada umumnya ia kurang mendapat kedudukan kalau dibandingkan dengan putera-puteranya dari isteri Padmi. Pada suatu waktu ia (Lesap) diberi tahu oleh ibunya, siapa sebenarnya ayahnya.
Sebagai seorang pemuda, ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan macam – macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa digunung-gunung dan dikuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa digunung Geger (di Bangkalan) sampai cukup lamanya. Sekembalinya dari bertapa tersebut, ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama ia menjadi dukun untuk menyembuhkan macam – macam penyakit.
Hal itu terdengar oleh raja Bangkalan, lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tetap tinggal dikota Bangkalan, dengan diberinya rumah didesa Pejagan.
Meskipun sudah mendapat kehormatan dan penghargaan semacam itu Ke’Lesap masih merasa tidak puas, karena ia merasa selalu diawasi oleh Raja. Yang tersembunyi dibalik itu, ia rupanya mempunyai ambisi untuk memegang Pemerintahan di Madura. Karena itu Ke’Lesap meninggalkan kota Bangkalan, terus menuju ketimur dan akhirnya ia sam­pai digua gunung Pajudan “didaerah Guluk-Guluk. Digua itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.
Nama Ke’ Lesap makin lama makin terkenal.  Diceriterakan bahwa Ke’ Lesap memiliki sebuah golok dan dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya. Kare­na kesaktian – kesaktian yang ia miliki, ia makin lama makin menjadi terkenal sam­pai diseluruh pelosok Madura.
2.      Sakera
Sakera adalah seorang tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil di Pasuruan, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil. Sakera seperti juga jagoan-jagoan daerah lainya ditangkap Belanda setelah dikhianati oleh salah satu temannya sendiri. Ia dimakamkan di wilayah Bekacak, Kelurahan Kolursari, daerah paling selatan Kota Bangil. Legenda jagoan berdarah Madura ini sangat populer di Jawa Timur.
Sakera adalah seorang tokoh pejuang yang lahir di kelurahan Raci Kota Bangil, Pasuruan, Jatim, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah yang melawan penjajah Belanda di perkebunan tebu Kancil Mas Bangil. Legenda jagoan berdarah Bangil ini sangat populer di Jawa Timur utamanya di Pasuruan dan Madura. Sakera bernama asli Sadiman, adalah golongan ningrat yang di sebut dengan kalas MAS, berlatar belakang Islam yang amat sholeh dan pekerja keras, profesinya sebagai mandor di perkebunan tebu milik pabrik gula kancil Mas Bangil. Ia dikenal sebagai seorang mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki Pak Sakera. dia adalah pejuang yang anti penjajahan, zuhud harta benda di tinggalkan untuk masyarakat
Suatu saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda pimpinan ambisius perusahaan ini ingin membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan harga semurah-murahnya.Dengan cara yang licik orang belanda itu menyuruh carik Rembang untuk bisa menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta dan kekayaan hingga carik Rembang bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah untuk perusahaan.
Sakera melihat ketidakadilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali kali upaya carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu Sakera menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera berkunjung ke rumah ibunya, disana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera akhirnya menyerah, Sakera pun masuk penjara Bangil.
3.      Joko Tole
            Diceriterakannya didalam sejarah Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning) kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole, diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan, didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.
Djokotole bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri,
saudara dari ayahnjy, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang

2 komentar:

  1. bagus nih pembahasannya

    http://www.marketingkita.com/2017/08/principal-menurut-ilmu-marketing.html

    BalasHapus