Madura
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya
kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.
Madura merupakan pulau kecil yang letaknya di
sebelah timur pulau jawa. Madura memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang
sudah ada dari sejak lama. Madura memiliki kebudayaan yang berbeda dengan
kebudayaan masyarakat-masyarakat pada umumnya, meskipun Madura masih berada di
wilayah Indonesia tetapi faktor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di
Indonesia berbeda-beda, dari satu daerah-ke daerah lain, meskipun Madura masih
satu provinsi dengan mereka.
Masyarakat Madura memiliki corak, karakter
dan sifat yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Masyarakatnya yang santun,
membuat masyarakat Madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat
yang lain. Jika masyarakat atau orang Madura mendapatkan suatu kebaikan maka
dia akan membalasnya dengan kebaikan serupa atau bahkan lebih baik. Tetapi,
jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan mereka
akan membalas dengan yang lebih kejam.
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang
blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja
keras (abhantal omba' asapo' angen). Harga diri, juga paling penting dalam
kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: katembheng
pote mata, angok pote tolang. Sifat yang seperti inilah yang melahirkan
tradisi carok pada sebagian
masyarakat Madura.
Walau orang di luar Madura menilai
mereka sangat kasar, namun penghormatan terhadap nilai-nilai kesopanan sangat
tinggi sekali. Betapa pentingnya nilai kesopanan ini nampak dari ungkapan
ta'tao batona langgar (tidak pernah merasakan lantainya langgar). Maksudnya,
orang tersebut belum pernah masuk langgar dan mengaji atau belum pernah mondok,
sehingga tidak tahu tatakrama kesopanan. Ungkapan ini untuk orang yang tidak
tahu atau melanggar nilai-nilai kesopanan. Ungkapan lain yang memberikan
nasihat dan ajaran tentang keharusan bersopan santun adalah : pa tao ajalan ,jalana
jalane, pa tao neng ngenneng, pa tao a ca ca (yang menjadi kewajiban harus
dilaksanakan sesuai dengan aturan. Harus tahu saatnya diam, harus tahu saatnya
berbicara). Hal ini bermakna bahwa orang Madura harus selalu tahu aturan, nilai
dan tatakrama dalam setiap tindakannya. Selain itu, setiap kewajiban harus
dilaksanakan dengan mendasarkan pada aturan-aturan tata krama yang ada. Orang
dan masyarakat Madura selalu menekankan bahwa mon oreng riya benni bagusse,
tape tatakramana, sanajjan bagus tapi tatakramana jube', ma' celep ka ate (yang
penting bukan ketampanan atau kecantikan, namun utama tatakramanya)
Dasar utama dari nilai-nilai kesopanan adalah penghormatan orang Madura kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Nilai-nilai kesopanan ini mengatur hubungan antargenerasi, kelamin, pangkat dan posisi social.
Dasar utama dari nilai-nilai kesopanan adalah penghormatan orang Madura kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Nilai-nilai kesopanan ini mengatur hubungan antargenerasi, kelamin, pangkat dan posisi social.
Bahasa Madura :
Bahasa
Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar
Madura yang berusaha mempelajarinya mengalami kesulitan, khususnya dari segi
pelafalannya. Bahasa Madura sama seperti bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali
juga mengenal Tingkatan-tingkatan.
TINGKAT BAHASA ( Dag
ondagga basa )
Dalam Bahasa Madura kita kenal 5 tinggkatan Bahasa :
Dalam Bahasa Madura kita kenal 5 tinggkatan Bahasa :
- Bahasa Kraton = Abdi Dalem –
Junan Dalem
Biasa digunakan di lingkungan keluarga Kraton - Bahasa Tinggi = Abdina –
Panjennengan
Biasa digunakan oleh ponggawa / bawahan pada atasan, baik di Lingkungan Kraton maupun di Lingkungan Pemerintahan, atau Santre pada Keyae. - Bahasa Halus = Kaula –
Sampeyan
Biasa digunakan oleh yang lebih muda pada yang lebih tua / pada yang dihormati. - Bahasa Menengah = Bula – Dika
Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda tetapi di hormati.
Misal : Mertua pada menantunya. - Bahasa Mapas /
Kasar = Sengko’ – Ba’na – Kakeh –
Sedeh
Biasa digunakan oleh yang lebih tua pada yang lebih muda, orang yang mempunyai posisi yang lebih tinggi pada bawahannya, dan orang yang seumur / sebaya (teman).
Rumah Adat Madura
Rumah
adat Madura memiliki halaman yang panjang atau yang terkenal dengan sebutan
Tanian Lanjang yang berarti bukti kekerabatan masyarakat Madura. Rumah adat ini
hanya memiliki satu pintu di depan. Agar pemilik rumah, dapat mengontrol
aktifitas keluar masuk keluarga. Pintu ini dihiasi ukiran-ukiran asli Madura,
dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan.
Senjata tradisional Madura
Senjata
tersebut bernama clurit. Bentuknya melengkung seperti arit, mata celurit sangat
runcing dan tajam. Gagangnya tebuat dari kayu atau logam.
Pakaian adat Madura
Pakaian
adat masyarakat Madura untuk pria sangat identik dengan motif garis horizontal
yang biasanya berwarna merah-putih dan memakai ikat kepala. Lebih terlihat
gagah lagi bila mereka membawa senjata tradisional yang berupa clurit. Dan
untuk wanita, biasanya hanya menggunakan bawahan kain batik khas Madura dan
mengenakan kebaya yang lebih simple.
Tarian khas Madura :
1. Duplang
Tari duplang merupakan tari yang spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tarian ini disebabkan karena tarian ini merupa kan sebuah penggambaran kehidupan seorang wanita desa. Wanita yang bekerja keras sebagai petani yang selama ini terlupakan. Dijalin dan dirangkai dalam gerakan-gerakan yang sangat indah, lemah-lembut, dan lemah gemulai.
2. Tari Sholawat Badar
atau rampak jidor
Tari
yang dimainkan oleh para dara ini merupakan tari yang menggambarkan karakter
orang Madura yang sangat relegius. Seluruh gerak dan alunan irama nyanyian yang
mengiringi tari ini mengungkapkan sikap dan ekspresi sebuah puji-pujian,
do’a dan zikir kepada Allah SWT.
3. Tari topeng Gethak
Tari
topeng 'gethak' mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat
berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Gerakan tari topeng gethak
mengandung makna mengumpulkan masa dimainkan oleh satu hingga tiga orang
penari.
4. Tari Rondhing
Rondhing
ini kan berasal dari "rot" artinya mundur, dan
"kot-konding" artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini
memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan
baris-berbaris. Tari rondhing ditarikan oleh 5 orang.
5. Tari Gambu
Tari Gambu Keraton Sumenep
Pada
awalnya tari Gambu lebih dikenal
dengan Tari keris, dalam catatan Serat Pararaton tari Gambu disebut dengan Tari
Silat Sudukan Dhuwung, yang diciptakan oleh Arya Wiraraja dan diajarkan pada para pengikut Raden Wijaya kala mengungsi di keraton Sumenep.
Pada masa kerajaan Mataram Islam di Jawa yakni pada pemerintahan Raden Mas
Rangsang Panembahan Agung Prabu Pandita Cakrakusuma Senapati ing Alaga
Khalifatullah (Sultan Mataram 1613-1645), seorang Raja yang sangat peduli
dengan seni dan budaya. Maka kala itu Sumenep diperintah oleh seorang Adipati
kerabat Sultan
Agung yang bernama Kanjeng Pangeran Ario Anggadipa tarian tersebut dihidupkan kembali
sekitar tahun 1630, diberi nama “Kambuh” dalam bahasa Jawa berarti “terulang kembali” dan sampai
detik ini terus diberi nama Kambuh dan lama kelamaan berubah istilah menjadi
tari Gambu (dalam logat Sumenep).
6.
Tari Moang Sangkal
Tari Moang Sangkal merupakan salah satu icon
seni tari di Madura, secara harfiah kata moang
sangkal terdiri dari dua kata berbahasa Madura yang mempunyai makna kata
sebagai berikut :
Kata Mowang berarti membuang, dan kata
Sangkal berarti sukerta yang artinya gelap (sesuatu yang menjadi santapan
sebangsa setan, dedemit, jin rayangan, iblis, menurut ajaran Hindu). Sedangkan
kata "sangkal" sendiri mengadopsi dari bahasa Jawi Kuno yang
maksudnya Sengkala (sengkolo). Jadi sangkal yang dimaksudkan pada umumnya oleh
masyarakat Songennep adalah : bila ada orang tua mempunyai anak gadis lalu
dilamar oleh laki-laki, tidak boleh ditolak karena membuat si gadis tersebut
akan “sangkal” (tidak laku selamanya).
Pada
umumnya jumlah penari berjumlah ganjil, dan kostum yang digunakannyapun adalah
kostum pengantin legha khas Sumenep dengan warna yang khas pula, yaitu warna
merah dan kuning, perpaduan warna tersebut mengandung filosofi ”kapodhang
nyocco’ sare” yang maksudnya ”Rato prapa’na bunga” (raja sedang
bahagia). sedangkan untuk paduan warna kostum merah dan hijau atau kuning dan
hijau mengandung folosofi ”kapodang nyocco’ daun” yang maksudnya ”Rato
prapa’na bendhu” (Raja sedang marah).Tari moang sangkal sendiri, diciptakan
pada tahun 1972 oleh salah seorang seniman Sumenep, Taufikurrachman yang salah
satunya dilatarbelakangi oleh kepedulian para seniman dalam menerjemahkan alam
madura yang sarat akan karya dan keunikan. disamping juga mengangkat sejarah
kehidupan karaton Sumenep tempo dulu.
7.
Tandak Madura
Tayub
atau tandak satu-satunya seni tari di mana perempuan menjadi penentu dan pencirinya
dari awal hingga akhir. Bahkan, penyebutan tandak untuk nama kesenian
mengindikasikan hal ini. Istilah tandak lebih merujuk pada penari perempuan.
Tapi karena ia menjadi unsur terpenting, kesenian itu sendiri pada akhirnya
sering disebut dengan tandak.
8.
Tarian Sanduk
Keselarasan
dalam gerak tampak dalam Tarian Sanduk yang merupakan tarian khas Madura.
Kesatuan gerak merupakan hal penting dalam seni tari, apa lagi tari kolosal
seperti Tarian Sanduk. Dalam tarian yang membutuhkan penari dalam jumlah banyak
ini dapat dilihat bahwa tari merupakan salah satu sarana pergaulan.
9.
Tari Geleng Ro’om
Geleng
Ro’om yang berarti gelang yang harum,
merupakan tarian yang diadaptasi dari Tari Topeng Getak dan Ronding asal
Madura,” Tarian ini sarat prestasi. Salah satunya meraih juara umum pada Parade
Tari Nusantara (PTN) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 2006.
“Ketika
itu tarian ini menyabet koreografer terbaik, tata rias terbaik, kostum terbaik,
tarian kreasi terbaik, aransemen musik terbaik, 13 penyaji terbaik, dan penyaji
terbaik wilayah Jawa-Bali,” Prestasi lainnya, tarian ini sudah 6 kali tampil di
Istana Negara untuk berbagai acara jamuan kenegaraan.
Selain
kostum yang menarik, unik, para penarinya perempuannya muda dan cantik,
berkulit putih-putih. Mereka mengenakan gelang berwarna keemasan di kaki dan
tangannya. Secara fisik saja penampilam mereka sudah menarik perhatian.
10.
Tari Pecut
Tari
pecut terlihat terilhami tari ngremo atau tari kelana yang di
Jawa umum dipergelarkan sebelum pertunjukan ludruk.
Gerakan
tarian baru itu umumnya dinamis dan giring-giring yang dikenakan di kaki para
penarinya lebih memeriahkan dan menyemarakkan suasana. Apalagi karena tarian
tersebut sering ditarikan secara massal sambil membawa pecut yang kalau dikebatkan
mengeluarkan bunyi menggelegar yang keras.
11.
Tari Potre Koneng
Tari
Potre Koneng merupakan sebuah tarian yang menggambarkan seorang putri ningrat,
yang bernama Potre Koneng. Seorang putri yang cantik jelita, lemah lembut tutur
katanya, ramah, dan penyayang. Tarian ini sangat menarik dan gerakannya
gemulai, sesuai dengan perilaku seorang putri ningrat. Tari Potre Koneng
mengisahkan tentang pertapaan putri jelita itu.
12.
Tari Sorong Kasereng
MASYARAKAT
Madura menyimpan banyak kesenian tradisional. Salah satunya adalah Tari Sorong
Kasereng di Kabupaten Sampang. Tarian ini dimainkan anak nelayan saat air laut
pasang ketika mereka membantu para orang tuanya menurunkan ikan hasil tangkapan
dari perahu. Sebuah ekspresi kegembiraan atas rezeki dari laut yang diberikan
oleh Tuhan.
Kini,
Tari Sorong Kasereng tak hanya dimainkan oleh anak-anak nelayan saja, tapi
seringkah pula ditampilkan dalam even yang dihadiri oleh pejabat. Seperti
tari-tarian lain yang ada di Madura, Tari Sorong Kasereng juga diiringi dengan
alunan musik khas Madura yang disebut Saronen.
13.
Tari Reng Majang / Tari Ole Olang
Tari
Reng Majang artinya tari nelayan, banyak jenis tari yang berasal dari Madura.
Tari Reng Majang salah satu tari daerah yang sudah tersohor dan banyak disukai.
Tari Reng Majeng atau Tari Nelayan ini lebih dikenal dengan sebutan Tari Ole
Olang, karena tarian ini diiringi sebuah lagu berjudul Ole Olang. Tari ini
menggambarkan kehidupan para nelayan yang bekerja di tengah laut mencari ikan.
Betapa
gigihnya para nelayan di daerah Madura, tak peduli ombak besar menerjang, namun
para nelayan tetap menjalankan kewajibannya, ombak bagi mereka bagaikan
bantal saja layaknya, dan angin sebagai selimutnya, Para nelayan tak gentar
oleh ombak serta riuhnya angin yang sewaktu-waktu dapat menggulingkan perahu
mereka.
Musik Khas Madura :
1. Saronen
Merupakan
music khas Madura, dimana alat music tersebut berbentuk kerucut dan dimainkan
dengan cara ditiup.
2. Tembang Macapat
Tembang
macapat adalah tembang yang dipakai sebagai media untuk memuji Allah sebelum
dilaksanakan shalat wajib, tembang tersebut penuh sentuhan lembut dan membawa
kesahduan jiwa. Selain berisi puji-pujian tembang tersebut juga berisi ajaran,
anjuran serta ajakan untuk mencintai ilmu pengetahuan, ajaran untuk
bersama-sama membenahi kerusakan moral dan budi pekerti, mencari hakekat
kebenaran serta membentuk manusia berkepribadian dan berbudaya.
3. Musik Tong-Tong
Musik Tong- Tong adalah musik dengan peralatan
dari bambu dan dibuat dengan model sederhana ini, tapi mampu menghadirkan bunyi
yang rancak dan tak kalah indah dari musik modern, merupakan kekayaan lokal
yang mampu mewarnai kehidupan masyarakat, terutama di Madura.
Adat
Istiadat Madura :
1.
Rangkaian Upacara Pernikahan
Tahap
mencari jodoh
Proses pernikahan ini dimulai dengan tahapan
mencari jodoh yang dibagi kedalam dua bagian, antara lain :
Ngen-angen
khabar ( informasi )
Dimana orang tua akan
berusaha mencari calon isteri untuk anaknya yang sudah dewasa (baligh) dan
berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta batuan kepada seseorang yang
disebut sebagai "pangadek"
Arabas
Pagar
Setelah melalui tahapan
Ngen angen khabar, selanjutnya adalah proses Arabas pagar, maksudnya seorang
pangadek mencari keterangan calon penganten apakah sang calon yang dituju sudah
memiliki pasangan atau masih tidak. Setelah melalui proses yang panjang dan si
calon sudah cocok dengan pasangannya, maka tahap selanjutnya adalah Abakalan
atau tunangan.
Nyabak
Jajan atau Lamaran
Calon mempelai laki-laki
mengirimkan seperangkat alat-alat keperluan mempelai wanita yang dibawa oleh
rombongan kerabat keluarga pihak laki-laki secara beriringan. Tahapan tersebut
dikenal oleh masyarakat dengan bhan-gibhan.
Setelah
menerima pemberian ini maka pihak wanita akan membalas pemberian calon mempelai
laki-laki dengan berbagai macam masakan kuliner yang juga dibawa oleh keluarga
kerabat mempelai wanita. Prosesi ini disebut dengan istilah balessan
atau tongebbhan.
Menjelang hari pernikahan, kedua pihak
mempelai mengadakan persiapan diantaranya Mamapar gigi oleh calon wanita setelah
itu mulai tahapan pingitan. Selanjutnya setelah melalui proses tahapan diatas,
maka tiba saatnya upacara yang sangat sakral "Ijab Kabul"
Sehari menjelang dilaksanakannya upacara
pernikahan adat di kediaman mempelai wanita, ada tradisi yang dilakukan oleh
sesepuh wanita yang dituakan berpakaian serba tertutup, yang selanjutnya
membawa kendi berisi air beserta dhamar kambhang (lampu minyak) untuk di
percikkan disekitar jalan yang akan dilalui oleh para tamu, setelah selesai
maka sesepuh tadi kembali ke rumah pengantin wanita dan meletakkan dhamar
kambhang di kamar si pengantin.
2.
Mamapar gigi
Tradisi Mamapar gigi ini bisa
ditemui di seluruh pedesaan yang ada di Sumenep, tepatnya di Desa Panagan,
Kecamatan Gapura, sekitar 10 kilometer arah Tenggara Kota Sumenep. Tradisi ini
sangat erat kaitannya dengan daur hidup (lingkaran hidup) individu, khususnya
bagi seorang perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan. “Mapar” dalam
bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “melakukan suatu pekerjaan untuk
merapikan dan meluruskan”. Jadi, mapar gigi dapat diartikan sebagai suatu usaha
untuk merapikan dan meluruskan bentuk susunan gigi dengan seperangkat alat
khusus.
3. Upacara Sandhur Pantel
Upacara
ritual untuk para masyarakat Madura yang berprofesi sebagai petani atau nelayan.
Upacara ini menghubungkan manusia dengan makhluk ghaib sebagai sarana
komunikasi manusia dengan Tuhan pencipta alam. Upacara ini berupa tarian yang
diiringi music.
4.
Nyadar
Nyadar (upacara
adat)
adalah kekayaan tradisi masyarakat petani garam Desa Pinggir Papas. Nyadar
dilakukan di sekitar komplek makam leluhur, disebut juga asta, yang oleh
masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Bujuk Gubang. Dalam setahun
dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang.
Pada Nyadar ketiga biasa mereka sebut dengan Nyadar Bengko. Lokasi Upaca adat
tersebut berada di Dusun Kolla, Desa Kebundadap
Barat, Kecamatan Saronggi. Dari kota
Sumenep
sendiri untuk menuju lokasi masih harus menempuh jarak sekitar 13 kilometer
lagi ke arah Selatan.
5.
Penganten Ngekak Sangger
Menurut penuturan para sesepuh di Desa
Leggung Kecamatan Batang-Batang ,ini melambangkan :
- Bahwa Pernikahan bagi orang-orang di pedesaan Sumenep bukanlah pertautan kedua mempelai, melainkan masuknya penganten pria kedalam keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan dan tahan dalam menghadapi tantangan hidup
- Mendidik penganten pria agar selalu arif, tertip, dan memegang sopan santun seperti halnya rangkaian Sangger.
6. Rokad Pandhâbâ
Rokad
Pandhâbâ, sebagaimana ruwatan murwakala di
Jawa, merupakan tradisi ritual di Madura yang bermula dari kepercayaan
masyarakat atas ancaman marabahaya sang Bethara Kala terhadap keselamatan
seorang anak.
Seorang
yang ingin melaksanakan ritual rokadhân (ruwatan) untuk anaknya
tersebut, biasanya akan menggelar berbagai macam jenis kesenian tradisi
sebagaimana upacara-upacara ritual yang lain, seperti petik laut, helat desa,
pesta panen, pesta perkawinan, dan sebagainya. Kesenian-kesenian yang biasa digelar
di antaranya mamaca (macapat), tanda (tayub), loddrok
(ludruk), ketoprak, topèng dhâlâng (topeng dalang), dan kesenian lainnya
yang mengandung unsur bunyi-bunyian.
Seni Pertunjukan Madura :
1. Karapan Sapi
Merupakan
kebudayaan Madura yang sangat terkenal. Karapan sapi ini merupakan lomba memacu
sapi paling cepat sampai tujuan. Bertujuan untuk memberikan semangat kepada
para petani agar tetap semangat untuk bekerja dan meningkatkan produksi ternak
sapinya.
2. Topeng Madura
Biasanya digunakan untuk pentas kesenian
topeng dalang, yaitu kesenian topeng yang dalam memerankan suatu cerita,
penarinya tidak berbicara, dialog dilakukan oleh dalangnya cerita yang
dibawakan adalah cerita Ramayana dan Mahabarata.
3. Sapi Sono’
Ketelatenan,
ketekunan dan kesabaran masyarakat pemilik sapi tersebut patut diacungi jempol.
Dapat dibayangkan bagaimana sepasang sapi betina yang biasanya berada di
ladang, Tiba-tiba berubah haluan menjadi hewan yang sangat peka, penurut dan
patuh. Dalam atraksi ini dapat disaksikan bagaimana hewan besar berkaki empat
ini mampu mematuhi aturan, mampu mengangkat kaki bersamaan ataupun
menggoyang-goyangkan tubuh (berjoget) ketika instrumen musik Saronen
dimainkan.
4.
Ojhung
Ojhung adalah sebuah
pertunjukan tradisional masyarakat Madura,khususnya Sumenep. Tradisi ojhung ini
selalu dilakukan setiap musim kemarau panjang tiba. tujuannya tak lain untuk
mendatangkan hujan. Peralatan yang digunakan dalam permainan yang sekaligus
berfungsi sebagai senjata adalah tongkat rotan yang berfungsi sebagai alat
pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut lapalo atau kol-pokol .
Selain itu, pemain menggunakan pelindung kepala (bhungkus atau bhuko) dan
pembalut lengan kiri (bulen atau tangkes) . Permainan diatur oleh seorang wasit
yang oleh masyarakat setempat disebut bhubhuto. Dalam pelaksanaannya,
pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes okol yang peralatan musiknya terdiri
atas ghambang dan dhuk-dhuk.
5. Lodrok
Kata “ludruk” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti
pertunjukan sandiwara dengan me nari dan bemyanyi. Sedangkan ludruk (di Madura)
mempunyai arti yang lebih sempit dari pada ludruk dalam arti kamus, yaitu
sebuah pertunjukan san diwara (sejenis teater) yang diperankan oleh seke lompok
orang yang kesemuanya adalah laki-laki, meskipun dalam kisah pertunjukan
tersebut ada peran perempuan, dan pertunjukan itu diiringi de ngan
menyanyi dan menari serta beberapa musik tradisional.
- Bajang Kole' Bhasa Madura
Bâjâng
kolè’ merupakan suatu bentuk kesenian wayang kulit di Madura, sebagai warisan
nenek moyang bangsa dimana banyak mengandung ajaran moral, etika dan falsafah
masyarakat pendukungnya. Pertumbuhan dan perkembangan bentuk pertunjukan wayang
kulit di Jawa dalam satuan catatan sejarah pedalangan maupun pewayangan,
ternyata tidak diiringi oleh tumbuh-kembangnya kesenian bâjâng kolè’ Pamekasan
(Madura). Kesenian teater tradisional ini tidak banyak diketahui keberadaannya,
sehingga perlu adanya upaya pendokumentasian demi pelestarian dan
pengembangannya.
Budaya hukum suku Madura :
1. Penikahan Salep Tarjha
Pernikahan ini adalah pernikahan
yang sangat dilarang oleh masyarakat Madura, karena dianggap dapet menbaca
bencana dan musibah bagi para pelaku maupun keluarga dari pelaku pernikahan tersebut.
Pernikahan Salep Tarjha adalah pernikahan 2 orang saudara.
Istilah Salēp Tarjhâ merupakan
sebuah istilah yang diberikan oleh Bengaseppo (sesepuh/nenek
moyang) masyarakat Madura bagi perkawinan silang antara 2 (dua) orang
bersaudara (sataretanan) putra-putri. Contoh : Ali dan
Arin adalah dua orang bersaudara (kakak-adik) yang dijodohkan/dinikahkan secara
silang dengan Rina dan Rizal yang juga dua orang bersaudara (kakak-adik).
2. Carok
Hukum adat yang paling kontroversial adalah
carok. Carok ini berasal dari suku madura. Carok merupakan kebiasaan adat
mereka untuk meneyelesaikan sengketa yang terlalu memakan emosi mereka. Carok
ini dapat kita samakan dengan “hutang nyawa dibayar nyawa”. Jika salah satu
dari mereka (orang madura) yang sudah mengucap atau menantang carok dengan yang
lain, maka harus dilakukan secepatnya. Di dalam carok tersebut, salah seorang dari
pelaku carok harusadayangmati.
Tidak ada peraturan resmi dalam pertarungan ini. Banyak yang menganggap carok adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi Carok.
Kata carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti 'bertarung dengan kehormatan.
Carok biasanya terjadi jika menyangkut masalah-masalah yang menyangkut kehormatan/harga diri bagi orang Madura (sebagian besar karena masalah perselingkuhan dan harkatmartabat/kehormatan keluarga).
Tidak ada peraturan resmi dalam pertarungan ini. Banyak yang menganggap carok adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi Carok.
Kata carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti 'bertarung dengan kehormatan.
Carok biasanya terjadi jika menyangkut masalah-masalah yang menyangkut kehormatan/harga diri bagi orang Madura (sebagian besar karena masalah perselingkuhan dan harkatmartabat/kehormatan keluarga).
Seni Kriya Madura :
Batik Madura adalah sebuah kerajinan tangan yang berasal
dari Pulau Madura, yang pusat pembuatan batik tersebut berada di daerah
Bangkalan yang merupakan ujung Barat Madura, sampai di pasar Sumenep. Batik
Madura seakan identik dengan satu tempat istimewa, yaitu Tanjung Bumi, yang
berada di Bangkalan Utara, diluar jalur utama lintas Madura yaitu berada di
sisi selatan pulau Madura.
2.
Keris
Sentra pembuatan senjata keris di Sumenep
terdapat di desa Aeng tong tong kecamatan
Saronggi dan desa desa Palongan
Kecamatan Bluto. Keris juga merupakan sebuah kerajinan tradisional dari
Madura meskipun tidak begitu diketahui sejak kapan keris sudah menjadi senjata
tradisional masyarakat Madura. Keris sekarang dan keris pada masa lalu berbeda,
bila keris sekarang digunakan hanya untuk meningkatkan/menaikkan pamor
seseorang dan keris pada masa lalu digunakan sebagai alat berperang.
Perahu madura adalah salah satu jenis perahu yang berkembang dan dibuat di Pulau Madura. Menurut Sulaiman, BA. dalam bukunya
perahu Madura dibagi kedalam 36 jenis, dengan nama jenis bentuk yang berbeda
pula.[1] Sentra Pembuatan Perahu Madura
terdapat di Desa
Slopeng, Kacamatan
Dasuk dan Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep. Didesa Ini perahu-perahu yang
dikembangkan mirip dengan perahu-perahu pada zaman Kerajaan Majapahit, sehingga
tidak berlebihan pula pada tahun 2010 silam, para pembuat perahu Madura
di desa Slopeng dipercaya untuk membuat Kapal layar Spirit Majapahit untuk
berkeliling dunia dalam misi perdamaian.
Jenis-jenis perahu madura
- Parao lete’,
- Lo-molowan,
- Sampan pajangan,
- Sampan kateran,
- Janggolan,
- Parao kaci’ dll.
- Paddhuang
- Karoman.
5.
Kleles
Kleles
adalah alat yang dipakai untuk pasangan sapi yang dikerap agar keduanya dapat
lari seirama, sedangkan pada bagian buritan adalah tempat duduk joki, yang akan
mengendalikan arah dan larinya sapi. Tuk-tuk sebagai instrument pengiring pada
saat kerap sedang dibawa keliling maupun pada saat sedang berlangsung
perlombaan kerapan sapi.
Makanan Khas Madura :
1.
Kocor
Kocor, makanan khas daerah yang terkenal
dengan Karapan Sapinya itu. Kocor adalah jajan gorengan yang terbuat dari gula
aren atau gula dari air pohon siwalan dicampur tepung ini. Makanan ini
seolah-olah menjadi makanan pokok hampir di semua rumah tangga di Madura saat
lebaran tiba.
2.
Nasi Serpang Bangkalan
Nasi
serpang di masak dengan bumbu rempah-rempah khas madura. Nasi Serpang ini
adalah masakan paduan dari bahan paduan bahan dari daratan juga lautan. Dari
ikan laut sampai dengan daging hewan daratan. racikan smuan itu di antranya
Nasi, Pepes ikan tongkol, Kerang dimasak sambal goreng, Soun bumbu kecap, Telor
asin masir, Sambal terasi, Krupuk rambak bumbu rujak, Dendeng daging sapi
Madura, Kripik paru dan Rempeyek ikan teri dan kacang,
3. Nasi Jagung
Sego
jagung atau nasi jagung adalah salah satu jenis masakan khas warga Jawa Timur,
khususnya daerah Madura.
Sego jagung bagi warga Madura dikenal dengan nama Nasek Ampog. Nasi ini terdiri dari beras putih yang dicampur dengan biji jagung pipilan yang dimasak secara bersamaan.
Sego jagung bagi warga Madura dikenal dengan nama Nasek Ampog. Nasi ini terdiri dari beras putih yang dicampur dengan biji jagung pipilan yang dimasak secara bersamaan.
4. Sate Madura
Sate Madura adalah sate khas Madura.
Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau
garam, juga terkenal dengan satenya. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama
sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian
kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran
kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan
api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang
batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol
tinggi dan yang pengidap asam urat akut.
5.
Topak Ladhe
Makanan
ini biasanya disajikan saat hari besar seperti hari raya ketupat, makanan ini
kuahnya dari bumbu kelapa parut dan rempah-rempah yang digiling dan lauknya
dari daging sapi dengan potongan telor ayam. disajikan dengan ketupat, ditambah
sayur markisa atau kacang panjang yang drebus. dengan sedikit bawang goreng dan
cabai.
6.
Tajin sobih Bangkalan
Tajin
sobih ini merupakan jajanan khas mirip dengan bubur, tapi spesial banget. kita
bisa menikmani beraneka ragam jenis bubur, ada yang merah-merah, ada yang
coklat-coklat, dan ada yang putih-putih. jajanan ini dinamakan Tajin Sobih
karena yang jualan kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan.
7.
Kaldu Kokot
Makanan khas ini merupakan makanan
sejenis sop dengan bahan utama kacang hijau yang di masak dengan direbus di
tambahkan berbagai macam bumbu rempah-rempah khas jawa seperti bawang merah,
bawang putih, jahe, pala, dan daun bawang. Makanan ini kuahnya agak kental
dengan tambahan potongan kikil kaki sapi, yang suka tulang juga ada yang
menyajikannya dengan tulang kaki sapi, kemudian ditambah dengan bumbu dari
ulegan kacang dan petis.
8. Soto Madura
Ciri khas soto madura terletak pada kuah.
Kuah pada soto biasa lainnya biasanya memakai santan. Tapi soto madura daerah
sumenep kuahnya tidak memakai santan. Semua bahannya untuk soto ini haruslah
digoreng dulu, bukan bahan mentah atau godokan. Lebih lengkapnya proporsi soto
ini berupa lontong atau ketupat yang sudah dipotong lalu ditaburi bawang
goreng, cambah goreng, kentang goreng, bawang pri goreng, dan perkedel ,lalu
ditambah kuah kaldu jernih yang bercampur daging ayam atau sapi. Soto ini
biasanya dimakan dengan pelengkap kecap manis, sambal, dan jeruk nipis.
9. Kaldu Daging
Kaldu
sumenep juga lain dari kaldu-kaldu lainnya karena bahan dasarnya adalah kacang
hijau. Kacang hijau ini biasa dibuat
bubur kacang hijau di jawa, di madura penduduk setempat mengolahnya menjadi kaldu
yang dicampur dengan daging. Akan lebih nikmat jika disajikan hangat-hangat, dengan kecap, korket (gorengan
singkong olahan madura) & sambel.
10. Apen Manis
Apen
madura ini disajikan dengan taburan gula aren putih cair yang kental. Apen ini dapat
dinikmati di warung pinggir jalan yang ada di desa parsanga.
11. Rujak Madura
Rujak
madura rahasianya terletak pada petis. Orang madura tidak memakai petis hitam
yang digunakan oleh orang jawa. Mereka membuat petis sendiri dari ikan atau
udang. Bumbu untuk membuat rujak madura sangat mudah yaitu petis satu-dua sendok, gula,
garam, kacang goreng, cabe kecil, cuka diulek menjadi satu hingga tercampur
rata dan dicampur bahan-bahan seperti lontong, sayur, telor.
12.
Patola
Bagi warga Sampang, Madura, Jawa Timur, ada
makanan khas yang wajib dihidangkan saat berbuka puasa. Makanan ini terbuat
dari tepung beras dengan bentuk lingkaran yang khas dan disajikan dengan santan
yang beraroma daun pandan.
Cara membuatnya cukup sederhana. Bahan-bahannya pun
mudah didapat, seperti tepung beras, santan, garam, dan daun pandan.
13. Jubada
|
|
|
Camilan
Jubede Khas Desa Kapedi, Sumenep Madura. © 2015 eMadura.com/Ahmad
|
Camilan khas Kapedi yang satu ini namanya "Jubede",
orang luar Madura menyebutnya Jubada. Jubede terbuat dari
tepung yang dicampur dengan gula merah, setelah diaduk beserta air secukupnya.
Jubede dimasak hingga agak mengental. Setalah dimasak, lalu dibentuk gulungan
panjang, kemudian dipotong kecil-kecil berukuran sekitar 2-2,5cm dan dijemur. Setelah
agak mengering jubede pun diikat per 3 biji gulungan dengan tali yang
terbuat dari daun siwalan.
14.
Rengginang Lorjuk
Rengginang yang terbuat dari campuran ketan dan
ikan lorjuk. Pembuatannya yaitu dengan dikukus, kemudian dicetak dalam bentuk
lingkaran lalu dijemur hingga kering. Rengginang lorjuk dapat dinikmati setelah
digoreng.
15.
Rujak Cingur Sumenep
Rujak cingur khas Sumenep sangat berbeda dengan
rujak cingur yang ada di Surabaya. Kalau di Sumenep, bahan utamanya tetap sama
yaitu menggunakan kacang merah tetapi tidak menggunakan mangga di dalam
bumbunya. Perbedaan satu lagi, kalau di Surabaya bahan yang digunakan seperti
lontong, cingur, mentimun dan lainnya dimasukkan ke dalam cobek berisi bumbu
kacang kemudian diaduk dengan rata dan disajikan ke piring, kalau di sumenep
bahan itu dipotong-potong di atas piring kemudian langsung disirami bumbu
kacang, jadi tidak perlu diaduk di atas ulekan lagi.
16.
Macho
Makanan khas sumenep, makanan ini banyak diminati
oleh anak-anak dikarenakan rasanya yang manis. Bahan-bahan macho adalah: 1.
gula merah/gula jawa. 2. beras ketan. Makanan ini mudah di dapatkan di daerah
sumenep.
17. Sewel
Tak
jauh dari pusat kota Bangkalan, tepatnya di daerah Socah terdapat sebuah gang
yang sangat populer dan banyak dicari. Gang sewel, begitulah papan kecil
terpampang di pintu masuk gang kecil tersebut. Camilan dengan cita rasa gurih
terbuat dari campuran tepung kanji, udang dan bumbu-bumbu rempah khas daerah
Socah. Ditambah saus kacang pedas yang semakin menambah kenikmatan.
18. Serabih
Serabih adalah kue Khas Madura
dengan bentuk khasnya yang melingkar, yang terbuat dari adonan tepung beras,
parutan kelapa, air dan garam. Kue ini biasa dihidangkan pada saat malam ke 21
sampai malam ke 29 pada bulan ramadhan.
19. Pokkak
Pokkak
sendiri diperkirakan sudah ada sejak Jaman Kerajaan dahulu, Pokkak sendiri
keberadaannya menyebar di berbagai pelosok Madura dengan variasi yang berbeda,di
Kota Sumenep Pokka disajikan dengan Kayu Manis utuh sebagai pengaduk dan
sedotan sedangkan di kota Pamekasan Pokkak disajikan dengan daun sereh sebagai
pengaduk dan penambah aroma khas Pokkak.
Pokkak
sendiri adalah minuman yang terbuat dari gula merah atau biasa dikenal dengan
gula aren yang kemudian direbus ke dalam air hingga mendidih, tetapi untuk
menambah rasa khas biasanya ditambahkan kayu manis, daun sereh dan jahe sebagai
zat aromatic. Selain itu Pokkak juga
berkhasiat sebagai obat herbal yang
dapat mengurangi gejala masuk angin, meriang, flu, pilek dan banyak lagi
khasiat dari minuman softdrink-nya
orang Madura ini.
20.
Kue Mento
Kue
berselimut santan putih ini merupakan salah satu jajanan khas sumenep. Kue
mento ini mirip risoles. Didalamnya ada potongan buah pepaya atau juga isi
irisan wortel. Rasa dan aromanya mirip kue bawang. Cuma yang membedakan, kue
ini dikukus dengan santan.
21.
Man Reman
Makanan ini berasal dari daerah sumenep,
tempatnya daerah kalianget. Makanan ini sulit untuk ditemukan karena hanya
dibuat pada acara-acara tertentu. Bahan-bahan man reman adalah: 1. tepung
beras. 2. gula merah/gula jawa.
Cerita
Rakyat Madura :
1. Ke’ Lesap
Diceriterakan
bahwa Pak Lesap adalah putera Madura keturunan Panembahan Cakraningrat dengan
isteri selir; karena itu pada umumnya ia kurang mendapat kedudukan kalau
dibandingkan dengan putera-puteranya dari isteri Padmi. Pada suatu waktu ia
(Lesap) diberi tahu oleh ibunya, siapa sebenarnya ayahnya.
Sebagai
seorang pemuda, ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan macam
– macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa digunung-gunung dan
dikuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa digunung Geger (di
Bangkalan) sampai cukup lamanya. Sekembalinya dari bertapa tersebut, ia
mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama ia menjadi dukun untuk
menyembuhkan macam – macam penyakit.
Hal
itu terdengar oleh raja Bangkalan, lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk
tetap tinggal dikota Bangkalan, dengan diberinya rumah didesa Pejagan.
Meskipun
sudah mendapat kehormatan dan penghargaan semacam itu Ke’Lesap masih merasa
tidak puas, karena ia merasa selalu diawasi oleh Raja. Yang tersembunyi dibalik
itu, ia rupanya mempunyai ambisi untuk memegang Pemerintahan di Madura. Karena
itu Ke’Lesap meninggalkan kota Bangkalan, terus menuju ketimur dan akhirnya ia
sampai digua gunung Pajudan “didaerah Guluk-Guluk. Digua itulah ia bertapa
untuk beberapa tahun lamanya.
Nama
Ke’ Lesap makin lama makin terkenal.
Diceriterakan bahwa Ke’ Lesap memiliki sebuah golok dan dapat disuruh
untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya. Karena kesaktian –
kesaktian yang ia miliki, ia makin lama makin menjadi terkenal sampai
diseluruh pelosok Madura.
2.
Sakera
Sakera adalah seorang tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil di Pasuruan, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar permulaan abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan
daerah, yang melawan perintah diktator Belanda di perkebunan tebu di daerah Bangil. Sakera seperti juga jagoan-jagoan daerah lainya
ditangkap Belanda setelah dikhianati oleh salah satu temannya sendiri. Ia
dimakamkan di wilayah Bekacak, Kelurahan Kolursari, daerah paling selatan Kota
Bangil. Legenda jagoan berdarah Madura ini sangat populer di Jawa Timur.
Sakera
adalah seorang tokoh pejuang yang lahir di kelurahan Raci Kota Bangil,
Pasuruan, Jatim, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad
ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah yang melawan penjajah Belanda di
perkebunan tebu Kancil Mas Bangil. Legenda jagoan berdarah Bangil ini sangat
populer di Jawa Timur utamanya di Pasuruan dan Madura. Sakera bernama asli
Sadiman, adalah golongan ningrat yang di sebut dengan kalas MAS, berlatar
belakang Islam yang amat sholeh dan pekerja keras, profesinya sebagai mandor di
perkebunan tebu milik pabrik gula kancil Mas Bangil. Ia dikenal sebagai seorang
mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja
hingga dijuluki Pak Sakera. dia adalah pejuang yang anti penjajahan, zuhud
harta benda di tinggalkan untuk masyarakat
Suatu
saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak
lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda pimpinan
ambisius perusahaan ini ingin membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan
harga semurah-murahnya.Dengan cara yang licik orang belanda itu menyuruh carik Rembang untuk bisa menyediakan lahan baru
bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta
dan kekayaan hingga carik Rembang bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik
Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah
untuk perusahaan.
Sakera
melihat ketidakadilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali kali upaya
carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin
perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk
membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus
marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang
dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu Sakera
menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera
berkunjung ke rumah ibunya, disana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi
Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera akhirnya
menyerah, Sakera pun masuk penjara Bangil.
3.
Joko
Tole
Diceriterakannya didalam sejarah
Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias
Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning)
kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga
bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo,
lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera
tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole,
diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan,
didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang
kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.
Djokotole
bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri,
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri,
saudara dari ayahnjy, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang
bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang
kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan
sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan
adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang
bagus nih pembahasannya
BalasHapushttp://www.marketingkita.com/2017/08/principal-menurut-ilmu-marketing.html
mantul informasinya
BalasHapus