Teori dan Model Atom
Kata atom
berasal dari bahasa Yunani yaitu ”atomos” yang berarti ”tidak dapat dibagi”.
Konsep dasar atom pertama kali dikemukakan oleh Democritus (orang Yunani)pada
awal abad ke-4 Sebelum Masehi. Menurut teori yang dikemukakannya, suatu benda
dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang sangat kecil yang akhirnya tidak dapat
dibagi lagi yang disebut atom. Menurut Democritus atom sepenuhnya padat,
tidak memiliki struktur internal, serta ada ruang kosong antar atom untuk
memberikan ruang untuk pergerakannya (seperti pergerakan dalam air dan udara,
atau fleksibilitas benda padat). Selain itu, Democritus juga menjelaskan bahwa
untuk menjelaskan perbedaan sifat dari material yang berbeda, atom dibedakan ke
dalam bentuk, massa dan ukurannya. Berdasarkan model atom yang dibuatnya,
Democritus mampu menjelaskan bahwa semua benda terdiri dari bagian yang lebih
kecil disebut atom. Namun model Democritus ini kurang memiliki bukti
eksperimental hingga mulai tahun 1800an muncul teori-teori baru
berdasarkan hasil eksperimen.
Beberapa
teori yang menjelaskan tentang atom adalah sebagai berikut :
Model Atom
John Dalton
John Dalton pada tahun 1803
mengemukakan pendapatnaya tentang atom. Teori atom Dalton didasarkan pada dua
hukum, yaitu hukum kekekalan massa (hukum Lavoisier) dan hukum susunan tetap
(hukum prouts). Lavosier mennyatakan bahwa "Massa total zat-zat sebelum
reaksi akan selalu sama dengan massa total zat-zat hasil reaksi".
Sedangkan Prouts menyatakan bahwa "Perbandingan massa unsur-unsur dalam
suatu senyawa selalu tetap". Dari kedua hukum tersebut Dalton mengemukakan
pendapatnya tentang atom sebagai berikut:
- Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi lagi.
- Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil, suatu unsur memiliki atom-atom yang identik dan berbeda untuk unsur yang berbeda
- Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen
- Reaksi kimia merupakan pemisahan atau penggabungan atau penyusunan kembali dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Kelebihan
Mulai membangkitkan minat terhadap
penelitian mengenai model atom
Kelemahan
Teori atom Dalton tidak dapat
menerangkan suatu larutan dapat menghantarkan arus listrik. Bagaimana mungkin
bola pejal dapat menghantarkan arus listrik? padahal listrik adalah elektron
yang bergerak. Berarti ada partikel lain yang dapat menghantarkan arus listrik.
Model Atom
JJ. Thomson
J.J. Thomson
pada awal 1900an, mengemukakan teori baru tentang atom. Menurutnya di dalam
atom terdapat partikel elektron dan proton. Berdasarkan hasil
eksperimennya proton memiliki massa yang jauh lebih besar dibandingkan
elektron, sehingga model atom Thomson menggambarkan atom sebagai proton tunggal
yang besar. Di dalam proton terdapat elektron elektron yang menetralkan
adanya muatan positif dari proton. Menurut Thomson, atom terdiri dari suatu
bulatan bermuatan positif dengan rapat muatan yang merata. Di dalam muatan
positif ini tersebar elektron dengan muatan negatif yang besarnya sama dengan
muatan positif. Secara garis besar teori atom thomson adalah"Atom
merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan
negatif elektron".
Secara
sederhana model atom thomson dapat analogikan sebagai jambu biji yang telah
dikelupas kulitnya. Biji jambu yang tersebar merata dimodelkan sebagai elektron
dan bulatan daging jambu yang pejal dimodelkan sebagai proton.
Membuktikan adanya partikel lain
yang bermuatan negatif dalam atom. Berarti atom bukan merupakan bagian terkecil
dari suatu unsur.
Kelemahan
Model Thomson ini tidak dapat
menjelaskan susunan muatan positif dan negatif dalam bola atom tersebut.
Model Atom
Rutherford
Pada tahun 1910
Rutherford bersama dua orang muridnya (Hans Geiger dan Erners
Masreden)melakukan percobaan yang dikenal dengan hamburan sinar alfa (λ)
terhadap lempeng tipis emas. Dari hasil pengamatannya ditemukan bahwa sebagian
besar partikel alfa mampu menembus lembaran emas tanpa dibelokkan. Bersamaan
dengan itu, Rutherford juga menemukan partikel alfa yang dibelokkan sedikit,
namun dengan sangat mengejutkan, Rutherford juga menemukan beberapa partikel
alfa yang dibelokkan pada sudut yang sangat tajam kembali ke sumber radioaktif.
Untuk menjelaskan adanya sebagian besar partikel-α yang menembus lempeng emas
tanpa dibelokkan, Rutherford kemudian mengembangkan model inti atom.
Berdasarkan gejala-gejala yang terjadi, Rutherford membuat kesimpulan bahwa :
- Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan
- Jika lempeng emas tersebut dianggap sebagai satu lapisanatom-atom emas, maka didalam atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan positif.
- Partikel tersebut merupakan partikelyang menyusun suatu inti atom, berdasarkan fakta bahwa 1 dari 20.000 partikel alfa akan dibelokkan. Bila perbandingan 1:20.000 merupakan perbandingan diameter, maka didapatkan ukuran inti atom kira-kira 10.000 lebih kecil daripada ukuran atom keseluruhan.
Berdasarkan
kesimpulan dari hasil pengamatannya Rutherford mengemukan sebuah model atom
yang dikenal dengan model atom Ruthreford yaitu " Atom terdiri dari inti
atom yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh elektron yang
bermuatan negatif."
Kelemahan
Tidak dapat menjelaskan mengapa
elektron tidak jatuh ke dalam inti atom. Berdasarkan teori gerak, apabila
elektron bergerak mengitari inti disertai pemancaran energi maka lama -
kelamaan energi elektron akan berkurang dan lintasannya makin lama akan
mendekati inti dan jatuh ke dalam inti
Kelebihan
Membuat hipotesa bahwa atom tersusun
dari inti atom dan elektron yang mengelilingi inti. Teori Rutherford bahwa
elektron mengelilingi inti atom ini memberikan inspirasi pada penemuan baru
berikutnya yaitu tentang lintasan/kedudukan elektron yang selanjutnya dikenal
sebagai kulit elektron.
Model Atom Niels Bohr
Pada tahun 1913, Neils
Bohr memperbaiki kegagalan atom Rutherford melalui percobaannya tentang
spektrum atom hidrogen. Berdasarkan hasil percobaannya Bohr memberikan gambaran
keadaan/kedudukan orbit elektron dalam menempati daerah di sekitar inti atom.
Menurut Bohr elektron mengelilingi inti atom pada orbit tertentu, hanya
terdapat orbit dalam jumlah tertentu dan perbedaan antar orbit satu dengan yang
lain adalah jarak orbit dari inti atom. Keberadaan elektron baik di orbit yang
rendah maupun yang tinggi sepenuhnya tergantung oleh tingkatan energi elektron.
Sehingga elektron di orbit yang rendah akan memiliki energi yang lebih kecil
daripada elektron di orbit yang lebih tinggi.
Penjelasan Bohr
tentang atom melibatkan gabungan antara teori klasik dari Rutherford dan
teori kuantum dari Planck, dan secara garis besar Bohr mengemukaan model
atomnya sebagai berikut :
- Elektron dalam atom bergerak mengelilingi inti pada lintasan-lintasan tertentu, tidak memancarkan energi. Lintasan-lintasan elektron itu disebut kulit atau tingkat energi elektron.
- Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan yang lain.
- Perpindahan elektron dari tingkat energi tinggi ke rendah disertai pemancaran energi. Sedang perpindahan elektron dari tingkat energi rendah ke tinggi disertai penyerapan energi.
- Elektron yang bergerak pada lintasannya berada pada keadaan stasioner, artinya elektron tidak memancarkan atau menyerap energi.
Menurut
model atom bohr, elektron-elektron mengelilingi inti pada lintasan-lintasan
tertentu yang disebut kulit elektron atau tingkat energi. Tingkat energi paling
rendah adalah kulit elektron yang terletak paling dalam, semakin keluar semakin
besar nomor kulitnya dan semakin tinggi tingkat energinya.
Kelebihan
atom Bohr adalah bahwa atom terdiri
dari beberapa kulit untuk tempat berpindahnya elektron.
Kelemahan
model atom ini adalah tidak dapat
menjelaskan efek Zeeman dan efek Strack
Model Atom
James Chadwick
Pada tahun 1932, James
Chadwick mengemukakan model atom berdasarkan pada model atom Rutherford.
Berdasarkan hasil percobaan dengan menembakkan partikel-α terhadap berilium
didapatkan suatu partikel yang tidak bermuatan yang disebut neutron.
Massa neutron ini sedikit lebih besar dibandingkan massa proton. Chadwick
menyimpulkan bahwa atom terdiri dari inti atom besar yang mengandung proton dan
neutron dikelilingi oleh awan tipis elektron. Dengan ditemukannya neutron dapat
memecahkan masalah mengapa massa atom lebih besar dari massa total proton dan
elektronnya.
Dengan pengertian dasar tentang
bagian fundamental atom seperti elektron, proton, dan neutron, maka dapat
dimungkinkan adanya model yang lebih rumit dan lengkap lagi dari atom yang
cukup dapat menjelaskan sifat dan karakteristik atom dan senyawa atom.
Model Atom
Modern
Berdasarkan
pengertian dasar yang diperoleh dari model-model atom klasik bahwa atom
terdiri dari elektron, proton, dan neutron, maka dapat dimungkinkan adanya
model yang lebih rumit dan lengkap mengenai atom yang hingga sekarang masih
dikatakan misterius. Salah seorang yang menjelaskan tentang model atom modern
adalah Erwin Schrodinger (1926). Sebelum Erwin Schrodinger, seorang ahli dari
Jerman Werner Heisenberg mengembangkan teori mekanika kuantum yang dikenal
dengan prinsip ketidakpastian yaitu “Tidak mungkin dapat ditentukan kedudukan
dan momentum suatu benda secara seksama pada saat bersamaan, yang dapat
ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari
inti atom”.
Daerah ruang di sekitar inti dengan
kebolehjadian untuk mendapatkan elektron disebut orbital. Bentuk dan tingkat
energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger.Erwin Schrodinger memecahkan
suatu persamaan untuk mendapatkan fungsi gelombang untuk menggambarkan batas
kemungkinan ditemukannya elektron dalam tiga dimensi.
x,y dan z = Posisi dalam tiga
dimensi
y= Fungsi gelombang
m= massa
ђ= h/2p dimana h = konstanta plank
dan p = 3,14
e= Energi total
V= Energi potensial
Model atom dengan orbital lintasan
elektron ini disebut model atom modern atau model atom mekanika kuantum yang
berlaku sampai saat ini, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Awan elektron di sekitar inti
menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital menggambarkan tingkat energi
elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau hampir sama akan
membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk kulit. Dengan
demikian kulit terdiri dari beberapa sub kulit dan subkulit terdiri dari
beberapa orbital.
Model Atom Mekanika Kuantum :
- Gerakan elektron memiliki sifat gelombang, sehingga lintasannya (orbitnya) tidak stasioner seperti model Bohr, tetapi mengikuti penyelesaian kuadrat fungsi gelombang yang disebut orbital (bentuk tiga dimensi darikebolehjadian paling besar ditemukannya elektron dengan keadaan tertentu dalam suatu atom)
- Bentuk dan ukuran orbital bergantung pada harga dari ketiga bilangan kuantumnya. (Elektron yang menempati orbital dinyatakan dalam bilangan kuantum tersebut)
- Posisi elektron sejauh 0,529 Amstrong dari inti H menurut Bohr bukannya sesuatu yang pasti, tetapi bolehjadi merupakan peluang terbesar ditemukannya elektron
Kelemahan Model Atom Modern
Persamaan gelombang Schrodinger
hanya dapat diterapkan secara eksak untuk partikel dalam kotak dan atom dengan
elektron tunggal
Partikel Dasar
Penyusun Atom
Pada 1808, John Dalton menyatakan bahwa atom adalah partikel terkecil yang
tidak dapat dibagi lagi. Teori atom Dalton bertahan hingga ditemukannya
partikel dasar penyusun atom pada 1896. Atom demikian kecil sehingga tidak
dapat dilihat walaupun dengan mikroskop. Akan tetapi sifat atom dapat
dipelajari dari gejala yang timbul bila diberi medan listrik, medan magnet,
atau cahaya. Dari gejala tersebut telah dibuktikan bahwa atom mengandung elektron,
proton, dan neutron yang disebut partikel dasar pembentuk atom.
Nama
Partikel |
Lambang
|
Penemu
(Tahun) |
Muatan
|
Massa
|
||
Absolut
(C=Coulomb) |
Relatif
|
Kg
|
Sma
|
|||
Proton
|
P
|
Eugene
Goldstein (1886) |
+1
|
1,0073
|
||
Elektron
|
e
|
JJ.
Thomson
(1897) |
-1
|
|||
Neutron
|
n
|
James
Chadwick (1932) |
0
|
0
|
10087
|
|
Pada tahun 1875, Crookes membuat tabung kaca yang kedua ujungnya dilengkapi dengan sekeping logam sebagai elektroda (gambar 1). Setelah udara dalam tabung divakumkan dan kedua elektroda dihubungkan dengan arus searah bertegangan tinggi, ternyata timbul sinar pada kutub negatif (katoda) yang bergerak ke kutub positif (anoda). Oleh sebab itu, sinar ini disebut sinar katoda dan alatnya disebut tabung sinar katoda.
Gambar 1. Tabung sinar katoda.
Sinar mengalir dari katoda (-) ke anoda (+)
Sinar katoda bersifat sebagai berikut:
a) Secara normal sinar katoda bergerak lurus.
b) Sinar ini dapat memutar baling-baling kecil yang diletakkan antara kedua elektroda. Berarti sinar ini mempunyai energi dan bersifat sebagai materi.
c) Sinar katoda dibelokkan oleh medan listrik dan magnet. Arah pembelokan itu menunjukkan bahwa sinar ini bermuatan negatif.
d) Dengan menggunakan spektroskopi massa ternyata partikel ini mempunyai e/m = -1,76 x 108 C g-.
e) Kemudian pada tahun 1908, R.A. Milikan mengukur sinar katoda dengan alat tetesan minyak, ternyata muatan partikelnya = -1,6 x 10-19 C.
Dari kedua percobaan diatas diperoleh massa elektron = 9,11 x 10-28 g. Hasil penyelidikan selanjutnya menunjukkan bahwa sinar katoda merupakan partikel yang paling ringan dan paling kecil. Sifat sinar katoda ini tidak bergantung pada bahan katoda yang digunakan. Hal ini dibuktikan oleh Thomson dengan mengganti katoda percobaan Crookes dengan logam lain, dan ternyata hasilnya sama. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa sinar katoda adalah partikel negatif yang terdapat pada semua atom. Partikel ini kemudian diberi nama elektron (Syukri, 1999, hal. 116).
2). Proton
Goldstein pada tahun 1886, membuat alat yang mirip tabung Crookes. Katoda dibuat berlubangdan diletakkan agak ke dalam (gambar 2). Tabung diisi gas hidrogen bertekanan rendah. Setelah dialirkan listrik menghasilkan dua macam sinar. Pertama sinar katoda (elektron) yang bergerak dari katoda ke anoda. Kedua, sinar yang bergerak ke katoda dan sebagian masuk ke dalam lobang (saluran) sehingga disebut juga sinar saluran.
Gambar 2. Tabung sinar negatif yang mempunyai lubang-lubang
pada katoda, sehinga dilewati oleh sinar positif.
Hasil penyelidikan terhadap sinar saluran adalah sebagai berikut :
a) Diuji dengan medan listrik atau magnet ternyata sinar ini bermuatan positif, maka disebut juga sinar positif.
b) Jika tabung diisi gas lain, seperti helium, oksigen, dan nitrogen, menghasilkan sinar positif yang berbeda. Berarti sinar yang dihasilkan bergantung pada jenis gas dalam tabung.
c) Nilai e/m sinar ini berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hal ini berarti sinar positif mempunyai massa dan muatan tertentu. Massa sinar positif jauh lebih besar daripada elektron.
d) Sinar positif yang paling ringan berasal dari gas hidrogen dan bermuatan sebesar muatan elektron, tetapi tandanya berlawanan. Partikel ini kemudian dikenal dengan nama proton. Massa proton = 1,6726 x 10-24 g (Syukri, 1999, hal. 117).
3). Neutron
Pada tahun 1932, James Chadwick melakukan eksperimen untuk membuktikan hipotesis Rutherford bahwa dalam inti atom terdapat neutron. Ia menembak atom berilium dengan sinar alfa. Dari hasil penembakan itu terdeteksi adanya partikel tidak bermuatan yang mempunyai massa hampir sama dengan proton. Karena sifatnya netral, partikel tersebut dinamakan neutron. Neutron mempunyai massa 1,6750 x 10-24 g.
Nomor Atom dan
Nomor Massa
1). Nomor AtomNomor atom suatu unsur menunjukkan jumlah proton yang terdapat dalam atom. Dalam atom netral jumlah proton sama dengan jumlah elektron, sehingga nomor atom juga menunjukkan banyaknya jumlah elektron yang terdapat pada atom. Hal ini berlaku untuk atom netral. Nomor atom diberi lambang Z.
|
Nomor massa menggambarkan massa partikel-partikel penyusun atom, yaitu massa proton, massa elektron, dan massa neutron. Massa elektron sangat kecil dibandingkan massa proton dan neutron sehingga massa elektron ini dapat diabaikan. Nomor massa diberi notasi A dan dapat didefenisikan sebagai jumlah proton dan jumlah neutron.
|
ZXA
dimana X : lambang unsur
A : nomor massa (jumlah proton + jumlah neutron)
Z : nomor atom (jumlah proton)
Contoh :
11Na23
jumlah proton (Z) = 11
jumlah elektron (Z) = 11
jumlah neutron (A-Z) = 23 – 11 = 12
Ion :
jumlah proton (Z) = 9
jumlah elektron (Z + 1) = 10
jumlah neutron (A-Z) = 19 – 9 = 10
Isotop, Isobar,
dan Isoton
1.
Isotop
Atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi memiliki nomor massa yang berbeda disebut dengan isotop.
Contoh:
Nomor atom 7 Nomor atom 7
Nomor massa 14 Nomor massa 15
2. Isoton
Isoton ialah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda),tetapi mempunyai jumlah neutron yang sama.Karena nomor atomnya berbeda maka sifat-sifatnya juga berbeda.
Contoh:
3. Isobar
Isobar adalah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda) tetapi mempunyai jumlah nomor massa yang sama. Karena nomor atomnya berbeda maka sifat-sifatnya juga berbeda.
Contoh:
Atom yang mempunyai nomor atom yang sama tetapi memiliki nomor massa yang berbeda disebut dengan isotop.
Contoh:
Nomor atom 7 Nomor atom 7
Nomor massa 14 Nomor massa 15
2. Isoton
Isoton ialah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda),tetapi mempunyai jumlah neutron yang sama.Karena nomor atomnya berbeda maka sifat-sifatnya juga berbeda.
Contoh:
3. Isobar
Isobar adalah atom dari unsur yang berbeda (mempunyai nomor atom berbeda) tetapi mempunyai jumlah nomor massa yang sama. Karena nomor atomnya berbeda maka sifat-sifatnya juga berbeda.
Contoh:
Konfigurasi
Elektron dan Elektron Valensi
Menurut teori atom Bohr, elektron berada dalam suatu lintasan atau orbit
tertentu yang disebut lintasan elektron atau kulit elektron. Berdasarkan
jaraknya dari inti atom, terdapat beberapa kulit.1) Kulit ke-1 atau kulit K
2) Kulit ke-2 atau kulit L
3) Kulit ke-3 atau kulit M
4) Kulit ke-4 atau kulit N
5) Kulit ke-5 atau kulit O
6) Kulit ke-6 atau kulit P
7) Kulit ke-7 atau kulit Q
Setiap kulit memiliki tingkat energi tertentu. Semakin dekat ke inti atom, semakin kecil tingkat energinya. Sebaliknya, semakin jauh dari inti atom, semakin besar tingkat energinya.
Berdasarkan hal tersebut, urutan tingkat energi dapat dituliskan sebagai berikut:
|
Elektron dalam atom tersusun berdasarkan tingkat energinya. Pengisian atau penyebaran elektron-elektron pada kulit-kulit atom dinamakan konfigurasi elektron. Konfigurasi elektron per kulit didasarkan pada jumlah elektron maksimum yang dapat mengisi setiap kulit sesuai dengan rumusan :
|
Tabel 3. Jumlah elektron maksimum di setiap kulit
Kulit
|
n
|
Σ e maksimum
|
KLMN
|
1234
|
2(1)2= 22(2)2= 82(3)2=
182(4)2 = 32
|
Urutan pengisian elektron dimulai dari kulit yang memiliki tingkat energi terendah, kemudian kulit berikutnya yang memiliki energi lebih tinggi, sampai pada kulit terakhir, contohnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Konfigurasi elektron atom berkulit K sampai N
Atom
|
Jumlah elektron
|
Kulit K(n = 1)
|
Kulit L(n = 2)
|
Kulit M(n = 3)
|
Kulit N(n = 4)
|
1H3Li6C12Mg33As
|
1361233
|
12222
|
-1488
|
—218
|
—-5
|
Jika jumlah elektron yang tersedia tidak mencapai jumlah elektron maksimum dalam suatu kulit, bahkan lebih besar dari jumlah elektron maksimum kulit sebelumnya, maka kulit yang akan ditempati elektron harus menggunakan jumlah elektron yang sama dengan jumlah elektron maksimum dalam kulit sebelumnya. Hal tersebut dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut:
|
1 (hanya untuk H)
|
Jumlah elektron sisa (jika elektron yang tersedia < 8)
|
8 (jika 8 ≤ elektron < 18 yang tersedia)
Jumlah elektron sisa (jika elektron yang tersedia < 8)
32 (jika elektron yang tersedia > 32)
|
8 (jika 8 ≤ elektron < 18 yang tersedia)
Sisa (jika elektron yang tersedia < 8)
Sumber: (Sutresna, 2007, hal. 19)
2). Elektron Valensi
Elektron valensi merupakan elektron yang terletak pada kulit terluar sehingga memiliki tingkat energi paling tinggi. Elektron valensi inilah yang berperan dalam reaksi kimia. Elektron kulit terluar ini dapat lepas, dipertukarkan, atau dipakai bersama dengan atom lain membentuk ikatan antar atom. Jumlah maksimum elektron valensi adalah 8. Dengan menentukan konfigurasi elektronnya, maka dapat diketahui jumlah elektron pada kulit terluarnya (elektron valensi), contohnya seperti pada Tabel 5.
Tabel 5. Elektron valensi beberapa atom
Unsur
|
Jumlah elektron
|
Kulit K
|
Kulit L
|
Kulit M
|
Elektron valensi
|
2He8O12Mg
|
2812
|
222
|
68
|
2
|
262
|
Massa Atom Relatif
Ukuran atom sangat kecil, sehingga tidak mungkin untuk menimbang sebuah
atom. Hal yang mungkin dilakukan adalah menentukan secara eksperimen massa
sebuah atom relatif terhadap atom lain. Massa atom relatif adalah perbandingan
massa antara atom yang satu terhadap atom yang lainnya. Massa pembanding yang
telah disepakati adalah 1/12 dari massa 1 atom C-12. Oleh karena umumnya unsur
terdiri dari beberapa isotop, maka pada penetapan massa atom relatif digunakan
massa rata-rata dari isotop-isotopnya
bagus juga materi nya pembelajaran teori atom
BalasHapushttp://www.marketingkita.com/2017/08/principal-menurut-ilmu-marketing.html